Muncul Tambang Nikel di Kawasan Raja Ampat Papua, Ini Komentar KLHK dan Bahlil

Muncul Tambang Nikel di Kawasan Raja Ampat Papua, Ini Komentar KLHK dan Bahlil

Kondisi Raja Ampat dengan penambangan nikel--istimewa

RAJA AMPAT, RADARPENA.CO.ID – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mulai menyelidiki dugaan aktivitas pertambangan nikel yang terjadi di kawasan sensitif ekologis Raja Ampat, Papua Barat Daya. 

Aktivitas ini diduga telah menyebabkan kerusakan lingkungan berupa pembabatan hutan dan ancaman terhadap ekosistem laut.

Sekretaris Utama KLHK, Rosa Vivien Ratnawati, menyampaikan bahwa pihaknya tengah mengembangkan langkah-langkah penegakan hukum melalui Deputi Penegakan Hukum (Gakkum).

BACA JUGA:30 Ucapan Hari Raya Idul Adha 2025 dalam Bahasa Inggris dan Artinya

"Saya hanya bisa menanggapi sedikit karena Deputi Gakkum sedang menindaklanjuti. Kami tengah melakukan pengembangan untuk langkah hukum selanjutnya," kata Vivien saat menghadiri Sarasehan 45 Tahun Kalpataru di Kuta, Rabu (5/6).

Dokumen Lingkungan Belum Jelas

Vivien mengaku belum dapat memberikan kepastian mengenai keberadaan dokumen lingkungan dari perusahaan tambang nikel yang beroperasi di sekitar Raja Ampat.

Ia menegaskan bahwa hal tersebut memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Terkait dokumen lingkungan yang wajib dimiliki perusahaan tambang, saya masih perlu memeriksa lebih dalam," ujarnya.

BACA JUGA:Terletak di Luar Jawa, ini Kota dengan Toleransi Tertinggi di Indonesia

Ekspansi Tambang Ancam Hutan dan Laut

Raja Ampat dikenal sebagai kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Namun, laporan terbaru Greenpeace Indonesia menyebutkan bahwa lebih dari 500 hektare hutan telah dibabat di tiga pulau kecil: Gag, Kawe, dan Manuran.

Padahal, wilayah-wilayah tersebut termasuk dalam zona lindung berdasarkan UU No. 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Laporan Greenpeace juga mencatat sedimentasi di pesisir akibat limbah tanah dari tambang, yang dapat merusak terumbu karang dan habitat laut.

Aktivitas tambang dikabarkan juga mengancam pulau-pulau lainnya seperti Batang Pele dan Manyaifun, yang berlokasi tak jauh dari ikon wisata Piaynemo.

"Tambang nikel mengancam laut yang menghidupi kami dan mengganggu harmoni masyarakat," kata Ronisel Mambrasar dari Aliansi Jaga Alam Raja Ampat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: