IHSG Anjlok 9,19% dan Trading Halt: Sinyal Bahaya Ekonomi atau Kepanikan Sementara?
IHSG anjlok--istimewa
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Pada Selasa, 8 April 2025, pasar saham Indonesia dikejutkan dengan kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok hingga 9,19 persen, sehingga memicu trading halt atau penghentian sementara perdagangan di Bursa Efek Indonesia.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar dan pengamat ekonomi. Apakah ini sekadar efek domino dari gejolak global, atau sinyal bahaya dari dalam negeri?
Menurut Achmad Nur Hidayat, ekonom dan pakar kebijakan publik dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, kejatuhan IHSG ini bukan sekadar anomali. Ia menilai tekanan jual di pasar masih sangat kuat.
BACA JUGA:Sri Mulyani Berencana Mundur IHSG Langsung Ajlok, Begini Respon Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco
“Indeks tetap terkapar di zona merah, mengonfirmasi bahwa tekanan jual masih sangat kuat,” ungkap Achmad saat dihubungi, Selasa (8/4/2025).
Achmad menjelaskan, koreksi tajam di pasar global—terutama di Amerika Serikat dan Eropa pada Senin, 7 April 2025—memang jadi pemicu awal kepanikan di kawasan Asia.
- STOXX 600 Eropa turun 4,5%
- FTSE 100 London merosot 4,38%
- CAC 40 Paris jatuh 4,78%
- Dow Jones AS kehilangan 0,91%
- Sementara itu, Nasdaq masih mampu bertahan di zona hijau
Namun menurutnya, menyederhanakan penyebab kejatuhan IHSG hanya karena faktor eksternal adalah pendekatan yang keliru.
BACA JUGA:Sistem Bank DKI Diretas, Dana Nasabah Terancam! Ini Pernyataan Resmi Sang Direktur Utama
“Klaim bahwa IHSG hanya menjadi ‘korban pasif’ gejolak global adalah penyederhanaan yang berbahaya,” tegasnya.
Sebagai pembanding, bursa saham di kawasan seperti Malaysia (KLCI) dan Filipina (PSEi) hanya mengalami koreksi moderat. Hal ini menandakan ada kerentanan khusus di pasar Indonesia.
“Sebagai pasar berkembang, Indonesia memang sensitif terhadap aliran modal asing. Tapi kenapa justru Indonesia yang lebih rapuh dibanding negara ASEAN lain yang punya kondisi makro serupa?” tanya Achmad.
Ada Apa di Balik IHSG yang Terjun Bebas?
Achmad menyarankan agar pemerintah dan pelaku pasar mulai menggali lebih dalam untuk menemukan faktor-faktor internal yang membuat pasar modal Indonesia begitu rentan.
“Penurunan IHSG yang berlebihan ini bisa jadi mencerminkan kombinasi berbagai masalah struktural dalam negeri yang selama ini tersembunyi di balik permukaan,” tutupnya.(bianca)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: