Upaya Atasi Invasi Ikan Sapu-sapu di Jakarta: Pakar IPB Tawarkan 3 Solusi

Upaya Atasi Invasi Ikan Sapu-sapu di Jakarta: Pakar IPB Tawarkan 3 Solusi

Pakar IPB University sarankan strategi terpadu untuk kendalikan ikan sapu-sapu di Jakarta.--

 

radarpena.co.id - Fenomena ledakan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta belakangan ini kian meresahkan warga dan pemerintah. Menanggapi rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memperluas aksi penangkapan massal, pakar dari IPB University memberikan catatan penting. Menurutnya, sekadar menangkap saja tidak akan cukup untuk menuntaskan masalah spesies invasif ini.

Pakar ikan dan konservasi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Dr Charles PH Simanjuntak, menegaskan bahwa kita butuh langkah yang lebih komprehensif. Pengendalian spesies asing ini harus dilakukan melalui pendekatan yang saling terintegrasi.

“Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis,” ungkap Dr Charles.

Mengapa ikan sapu-sapu Sangat Sulit Dikendalikan?

ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) bukan sekadar ikan hias pembersih akuarium biasa. Di alam liar, mereka adalah spesies invasif dengan kemampuan reproduksi yang luar biasa tinggi. Bayangkan, satu ekor betina bisa menghasilkan hingga 19.000 telur dalam satu siklus dan dapat berkembang biak beberapa kali setahun.

Tak hanya jumlah telur yang banyak, tingkat keberhasilan hidup ikan ini juga sangat tinggi karena sifat protektif induknya.

“Satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang yang mereka gali sampai menetas sehingga sintasan (persentase kelangsungan hidup) bisa mencapai lebih dari 90 persen,” paparnya.

Masalah kian rumit karena di ekosistem seperti Sungai Ciliwung, ikan ini tidak memiliki predator alami seperti di tempat asalnya, Sungai Amazon. Tanpa adanya pemangsa spesifik, populasi mereka pun meledak tanpa hambatan.

Tiga Strategi Terpadu untuk Pemprov DKI Jakarta

Untuk menekan laju invasi ini, Dr Charles menyarankan kombinasi tiga tindakan utama:

1. Pencegahan dan Regulasi Ketat

Langkah awal yang paling krusial adalah menutup pintu masuknya ikan ini ke perairan alami. Dr Charles menyarankan agar Pemprov Jakarta memperkuat aturan perdagangan ikan hias. Edukasi kepada masyarakat juga sangat penting agar tidak lagi melepasliarkan ikan sapu-sapu ke sungai, baik secara sengaja maupun tidak. Selain itu, penggunaan teknologi environmental DNA (eDNA) bisa membantu mendeteksi keberadaan ikan lebih awal.

2. Penangkapan Fisik yang Terarah

Penangkapan massal memang perlu, namun harus dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai agar ikan tidak berpindah dari satu area ke area lain. Dr Charles juga memberikan tips agar penangkapan lebih efektif.

“Penangkapan terhadap ikan berukuran kecil (kurang dari 30 cm) dapat lebih efektif dalam menekan populasi,” tambahnya.

Beliau juga menekankan bahwa ikan sapu-sapu yang sudah ditangkap harus dimusnahkan agar jumlahnya benar-benar berkurang.

3. Kontrol Biologis

Langkah terakhir adalah menghadirkan kembali fungsi ekosistem dengan pemanfaatan predator alami. Ikan lokal seperti baung dan betutu dapat membantu mengendalikan populasi sapu-sapu, terutama pada fase juvenil atau saat ikan masih berukuran sangat kecil (0,6–1,0 cm).

Larangan Konsumsi karena Bahaya Logam Berat

Meski ada wacana untuk memanfaatkan ikan hasil tangkapan, Dr Charles memberikan peringatan keras. Beliau sangat tidak merekomendasikan masyarakat untuk mengonsumsi ikan sapu-sapu yang berasal dari perairan Jakarta yang tercemar.

“Tidak direkomendasikan jika berasal dari perairan tercemar berpotensi mengandung logam berat, sehingga tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi,” tegasnya.

Dengan menggabungkan pengawasan ketat, aksi komunitas yang sistematis, dan pemulihan predator alami, Jakarta diharapkan mampu mengembalikan keseimbangan ekosistem sungainya secara berkelanjutan.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: ipb.ac.id

Berita Terkait