Viral di China! Kantor Palsu Disewa Demi Nampak Sibuk, Ini Alasannya
Kantor palsu disewa demi nampak sibuk, di China --pexels.com/Andrea Piacquadio
Pro dan Kontra di Kalangan Netizen
Fenomena kantor palsu ini menimbulkan reaksi beragam. Beberapa orang melihatnya sebagai bentuk pelarian psikologis yang sah. Dalam kondisi sulit, menyewa tempat kerja semacam ini bisa memberi ilusi bahwa hidup tetap berjalan normal.
Namun di sisi lain, banyak yang menyebut tren ini justru menunda penyelesaian masalah. Alih-alih fokus mencari pekerjaan baru atau mengikuti pelatihan, orang malah sibuk mencitrakan diri. Ini dinilai sebagai bentuk pelarian dari realitas yang memperpanjang masa pengangguran.
BACA JUGA:
- Penyebab Angka Kelahiran Jepang Terendah dalam Seabad, Ancaman bagi Masa Depan Negeri Sakura
- 7 Negara dengan IQ Tertinggi di Dunia: Jepang Unggul, Indonesia Kapan Nyusul?
Pengangguran Meningkat, Tekanan Psikis Menguat
Layanan sewa kantor palsu muncul di tengah tingginya angka pengangguran di kalangan anak muda China. Pada Juni 2023, tingkat pengangguran untuk usia 16–24 tahun mencapai rekor 21,3%.
Pemerintah kemudian mengubah metode perhitungan, dengan mengecualikan mahasiswa. Hasilnya, angka turun ke 16,1% pada November 2023.
Kondisi ini menambah tekanan mental bagi para pencari kerja. Banyak dari mereka merasa gagal, stres karena terus-menerus melamar pekerjaan tanpa hasil.
Tak heran, solusi seperti "kantor pura-pura" terasa cukup menarik, walau bukan solusi jangka panjang.
Ruang untuk Refleksi Diri
Di sisi positif, banyak warganet menyarankan agar ruang sewaan ini bisa dimanfaatkan untuk hal produktif.
Misalnya, benar-benar digunakan untuk mencari lowongan pekerjaan, menulis CV, atau mengikuti pelatihan daring.
Selain itu, konseling juga dapat menjadi langkah yang baik untuk mengatasi stres karena pengangguran.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: