Teladan Nabi Muhammad SAW di Rumah: Ringan Tangan Bantu Pekerjaan Istri

Teladan Nabi Muhammad SAW di Rumah: Ringan Tangan Bantu Pekerjaan Istri

Teladan Nabi Muhammad SAW di rumah--

JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Kehadiran Nabi Muhammad SAW merupakan anugerah besar bagi seluruh umat manusia. Akhlak beliau yang mulia menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan, baik di ranah sosial, spiritual, maupun rumah tangga

Allah SWT menegaskan dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 yang artinya: "Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah."

Keteladanan beliau tampak jelas dalam keseharian, terutama di rumah. Rasulullah SAW tidak hanya menjadi suami yang bijaksana, tetapi juga sosok yang penuh kasih dan ringan tangan membantu istrinya. 

Inilah yang menjadikan rumah tangga beliau penuh dengan keberkahan dan menjadi panutan bagi umat Islam hingga kini.

BACA JUGA:

1. Rasulullah SAW Ringan Tangan di Rumah

Dalam hadits riwayat Bukhari:

عَنِ الْأَسْوَدِ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ: مَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

Artinya: "Dari Al-Aswad, ia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah: apa yang Rasulullah lakukan saat di rumah? Ia menjawab: beliau membantu pekerjaan keluarganya, jika azan berkumandang, beliau keluar (untuk shalat)."

Tindakan ini menggambarkan keseimbangan antara tanggung jawab dunia dan kewajiban ibadah kepada Allah.

Menurut Syekh Ibnu Allan, makna mihnati ahlihi dalam hadits tersebut sangat luas, mencakup menambal pakaian, menjahit sandal, memerah susu kambing, hingga membersihkan rumah. 

Rasulullah SAW bahkan tak segan memberi makan hewan, membantu membuat adonan roti, dan membawa barang dari pasar. Semua dilakukan tanpa merasa malu, padahal beliau adalah pemimpin umat Islam.

2. Kerendahan Hati Seorang Pemimpin

Imam Al-Munawi menjelaskan bahwa sikap Rasulullah di rumah menjadi pelajaran penting bagi umatnya. Beliau menulis bahwa seorang pemimpin sejati adalah mereka yang tidak merasa gengsi untuk mengurus urusan pribadinya. Bahkan, sikap seperti ini adalah kebiasaan orang-orang saleh.

وَفِيهِ أَنَّ ٱلْإِمَامَ ٱلْأَعْظَمَ يَتَوَلَّى أُمُورَهُ بِنَفْسِهِ، وَأَنَّهُ مِنْ دَأْبِ ٱلصَّالِحِينَ

Artinya: "Di dalamnya mengandung pelajaran bahwa seorang pemimpin agung itu menangani urusannya sendiri, dan hal tersebut merupakan kebiasaan orang-orang saleh."

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait