Viral Tren Aura Farming: Aksi Bocah Pacu Jalur Riau Ditiru Dunia, Ini Makna dan Budaya di Baliknya
Pacu Jalur Aura Farming-TikTok: @sahdilepas-
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Media sosial kembali dihebohkan dengan viralnya aksi seorang bocah yang menari di ujung perahu panjang dalam lomba tradisional Pacu Jalur.
Aksi autentik sang bocah, yang dijuluki "tukang tari" atau anak coki, menjadi simbol tren baru Gen Z yang kini mendunia: Aura Farming.
Video berdurasi singkat itu memperlihatkan sang bocah dengan luwes menari diiringi lagu “Young Black & Rich” dari Melly Mike, diberi judul simpel: "Aura farming 100/10".
Tak butuh waktu lama, aksi tersebut menular ke dunia internasional. Klub-klub elite seperti PSG, AC Milan, bahkan atlet dunia seperti Neymar, Bradley Barcola, hingga Travis Kelce menirunya lewat video TikTok dan Reels.
Apa Itu Aura Farming?
Secara harfiah, aura farming berarti "bertani aura". Tapi dalam budaya digital Gen Z, istilah ini mengacu pada usaha seseorang untuk menampilkan versi paling keren dari dirinya secara alami, tanpa terlihat berusaha.
BACA JUGA:Harga BBM Naik Serentak per 6 Juli 2025: Cek di SPBU Pertamina, Shell, BP, dan Vivo
BACA JUGA:Absen di Pemakaman Diogo Jota, Cristiano Ronaldo Panen Hujatan
Menurut ensiklopedia Know Your Meme, istilah ini bermula dari dunia gim dan pop culture, seperti World of Warcraft, Elden Ring, dan karakter Paul Atreides dari film Dune (diperankan oleh Timothee Chalamet). Dalam gim, “farming” berarti mengumpulkan item secara konsisten. Di dunia nyata, farming aura berarti mengumpulkan kesan keren dari publik melalui aksi, gaya, dan karisma.
Yang menarik, fenomena ini bukan muncul dari fashion show, konser, atau selebritas Hollywood, melainkan dari anak kecil penari perahu di pedalaman Riau. Autentik dan penuh budaya—itulah kekuatan utama dari tren ini.
Pacu Jalur: Warisan Budaya Riau yang Kini Mendunia
Tren global ini sebenarnya berakar dari lomba tradisional Pacu Jalur, yang merupakan balapan perahu panjang khas Kuantan Singingi, Riau.
Jalur adalah perahu yang panjangnya bisa mencapai 30 meter dan diawaki oleh 40–60 orang pendayung. Festival ini sudah ada sejak abad ke-17 dan kini rutin digelar setiap bulan Agustus untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.
Di ujung perahu berdirilah sosok anak coki, penari kecil yang bertugas memberi semangat dengan tarian khas Melayu. Anak coki hanya akan menari jika timnya memimpin, dan akan duduk diam jika perahunya tertinggal. Gerakannya adalah bentuk komunikasi non-verbal penuh semangat, ekspresi kemenangan, dan rasa bangga.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: