Kadin Ungkap Nilai Perdagangan Indonesia-AS Bisa Tembus 80 Miliar Dolar Seusai Negosiasi Tarif
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie saat melakukan kunjungan ke Amerika Serikat.--
Di kesempatan yang sama, Anin memprediksi AS diproyeksi tak akan sepenuhnya keluar dari Perjanjian Paris. Dengan begitu, Indonesia memiliki sejumlah peluang untuk menjual atau meningkatkan perdagangan kredit karbon, hingga mineral kritis yang banyak tersedia di Tanah Air.
Sinyal tersebut ditangkap Anin saat menghadiri Bloomberg New Energy Forum (NEF) Summit 2025 pada 29-30 April 2025 lalu. Acara ini diikuti bersama Utusan Presiden Bidang Perubahan Iklim dan Energi Hashim S. Djojohadikusumo, yang juga Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia.
“Forum ini fokus membahas transisi energi, iklim, lingkungan hidup. Di sana bertemu dengan berbagai macam pemangku kepentingan di bidang energi. Walau Presiden Trump memutuskan keluar dari Paris Agreement namun dua per tiga dari 50 negara bagian menyatakan ingin lanjut,” jelas Anin.
Bahkan, sambung dia, penghasil minyak dan gas (migas) terbesar di AS yakni Texas, justru menjadi negara bagian yang paling banyak menggunakan energi angin dan tenaga surya untuk menghasilkan listrik.
BACA JUGA:Daerah paling Luas di NTT ini Digadang jadi Provinsi Baru
“Di situlah kami merasa bahwa ini mungkin belum tentu selamanya pemerintah pusat Amerika (ingin keluar dari Perjanjian Paris). Di sana banyak sekali orang datang mau ajak berminat investasi di mineral kritis terutama, kemudian energi baru terbarukan, maupun carbon capture,” tutur Anin.
Oleh karena itu, Kadin bersama utusan presiden mempromosikan Indonesia sebagai pusat dekarbonisasi. Dengan hutan tropis yang luas, Indonesia menghasilkan kredit karbon melalui proyek konservasi hutan, reboisasi atau pengelolaan lahan berkelanjutan.
Proyek Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) memungkinkan Indonesia mendapat pengakuan atas emisi yang berhasil dicegah lewat perlindungan hutan.
“Indonesia juga melakukan preservasi di biodiversitas sekitar kita yang suatu saat bisa menjadi carbon capture yang bagus dan juga carbon market. Jadi itulah kita mencari mitra-mitra dan banyak sekali yang justru sangat meminati,” ujar Anin.
Indonesia memiliki potensi untuk menjual kredit karbon ke AS melalui mekanisme perdagangan karbon internasional, seperti bursa karbon Indonesia atau IDX Carbon. Bursa ini telah meluncurkan penawaran sertifikat kredit karbon untuk pembeli internasional, termasuk potensi pembeli dari AS untuk membantu capaian target emisi nol bersih.
“Bagi Indonesia, iklim, energi transisi, dan lingkungan hidup adalah isu kehidupan karena kita negara kepulauan, kalau air naik, hancur semua kita. Selanjutnya, Indonesia juga mempunyai potensi untuk memproses mineral kritisnya dengan kemampuan energi terbarukan,” tegas Anin.
Tak lupa, tim lawatan ke AS juga menginformasikan bahwa Indonesia memiliki banyak mineral kritis yang bisa diolah seperti nikel, tembaga, seng, bauksit, hingga emas. Anin menegaskan, peluang investasi AS pada komoditas-komoditas tersebut tetap mengutamakan nilai tambah di dalam negeri, dengan pengolahan mineral sebelum diekspor.
“Di atas tanah, kita mempunyai kemampuan untuk renewable energy (energi terbarukan), bahkan di RUPTL PLN 15 tahun ke depan saja sudah 103 gigawatt, 75 persennya renewable energy,” imbuhnya.
BACA JUGA:Google Bayar AS Miliaran Dolar Terkait Masalah Privasi
Mineral langka merupakan bahan baku baku kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang juga dibutuhkan AS. Pengusaha di Negeri Paman Sam berharap Indonesia mengekspor mineral kritis ke AS dan pihak AS bisa membangun pabrik pengolahan mineral kritis di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: