Profil Aura Cinta, Remaja Viral Protes Kebijakan Dedi Mulyadi Soal Penghapusan Wisuda Sekolah

Profil Aura Cinta, Remaja Viral Protes Kebijakan Dedi Mulyadi Soal Penghapusan Wisuda Sekolah

Profil Cinta Aura remaja Bekasi viral protes ke Dedi Mulyadi soal penghapusan wisuda sekolah -tangkapan layar-

JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Viral di media sosial seoran remaja putri asal Kabupaten Bekasi yang berdebat seru dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Remaja tersebut diketahui bernama Aura Cinta yang rumahnya berada di kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi yang beridiri di bantaran sungai.

Aura Cinta melakukan protes kebijakan Gubernur Jawa Barat yang vidionya diunggah di akun TikTok miliknya yang viral di media sosial.

"Lucu ya katanya pembangunan tapi yang dikorbanin rakyat kecil, proyek-proyek besar terus diluncurin, mulai dari larangan motor, sekolah tanpa wisuda, bahkan bendungannya bikin warga terusir dari rumahnya, katanya untuk rakyat tapi kenapa justru rakyat kecil yang dikorbanin," ujar Aura dalam video yang diunggahnya di TikTok @iam_auracinta.

Dalam unggahan tersebut yang telah ditonton 5 juta kali serta mendapat lebih dari 54 ribu komentar warganet yang mengkritik sikap remaja tersebut.

Dalam perdebatan tersebut, Aura Cinta yang berjuang untuk mempejuangkan nasib keluarganya usai terdampak penggusuran rumah di bantaran kali.

Kejadian tersebut terjadi usai pemerintah setempat melaksanakan program penertiban hunian liar di sepanjang aliran kali.

BACA JUGA:Jurgen Klopp Ucapkan Selamat untuk Liverpool dan Arne Slot yang Juara Liga Inggris: Sangat Bahagia

BACA JUGA:Daftar Grup Babak 32 Besar Liga 4 Indonesia Serta Top Skor Sementara

Pemerintah melakukan hal tersebut guna mengatasi masalah lingkungan dan banjir, tak hanya itu kebijakan itu juga menimbulkan dampak sosial yang serius bagi keluarga seperti Aura yang kehilangan tempat tinggalnya.

Dedi Mulyadi juga menjelaskan dalam pertemuan tersebut kepada Aura Cinta bahwa kebijakannya itu demi kepentingan rakyat sebab banyak orang tua yang protes terhadap pelaksanaan wisuda atau perpisahan yang menelan biaya dan dianggap membebani.

"Tidak boleh ada beban untuk orang tua, jangan sampai BOS dibayar pemerintah tapi siswanya hura-hura," ujar Dedi Mulyadi dalam video yang diunggahnya di YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.  

 

"Harusnya kritik pemerintah yang tidak memperhatikan pendidikan, ini pemerintahnya memperhatikan pendidikan. Melarang gurunya bikin pungutan, harusnya siswa mengkritik sekolah yang membiarkan pungutan," tambahnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait