IHSG Merosot: Investor Panik atau Peluang Baru?
IHSG anjlok -Bianca-radarpena.co.id Disway group
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Meskipun pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam dan kembali mengguncang perekonomian Indonesia, para analis saham tetap optimis bahwa kondisi ini tidak akan membuat Indonesia semakin rentan terhadap guncangan ekonomi global.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Head of Research Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro. Menurutnya, peningkatan ekuitas sebelum libur panjang Hari Raya Idul Fitri berpotensi menarik minat investor asing untuk kembali masuk ke pasar.
"Ada kemungkinan bahwa baik investor asing maupun domestik akan kembali dengan jumlah dana tunai yang cukup besar," ujar Satria dalam wawancaranya dengan Disway pada Rabu, 9 April 2025.
Sementara itu, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menyoroti faktor utama yang perlu diperhatikan dalam penurunan IHSG, yaitu komposisi investor di Bursa Efek Indonesia (BEI).
BACA JUGA:Fatwa Majelis Ulama Dunia: Negara Islam Jihad Lawan Israel, Boikot Produknya
BACA JUGA:IHSG Anjlok Lagi, Pengamat Soroti Peran Lembaga Keuangan
Ia menjelaskan bahwa dominasi investor ritel yang cenderung mudah panik dan terpengaruh sentimen jangka pendek, ditambah dengan besarnya porsi investor asing yang memiliki dana bersifat hot money (mudah keluar-masuk), menyebabkan struktur pasar menjadi kurang stabil.
"Ketika kondisi global memburuk, investor asing cenderung menarik dananya dari pasar negara berkembang yang dianggap berisiko (capital outflow), sementara investor ritel lokal yang panik melakukan aksi jual (panic selling), sehingga menciptakan efek bola salju yang semakin menekan indeks," jelas Achmad.
"Hal ini berbeda dengan pasar lain yang memiliki basis investor institusional domestik yang lebih kuat dan berorientasi jangka panjang, yang dapat berfungsi sebagai penahan (buffer) saat terjadi gejolak," tambahnya.
Faktor lain yang turut berkontribusi terhadap kondisi ini adalah masalah likuiditas dan struktur pasar. Dalam hal ini, aspek tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG) yang belum merata, transparansi informasi yang masih bervariasi, serta sentimen negatif dalam negeri, seperti kebijakan ekonomi, stabilitas politik, atau isu sektoral tertentu, juga dapat memperburuk situasi.
BACA JUGA:Ma Dong Seok terlibat Okultisme di Seoul
BACA JUGA:Pemprov DKI Jakarta Butuhkan 1.652 Petugas PPSU, Syarat Cuma Bisa Baca Tulis Saja, Tertarik?
Jika berbagai faktor tersebut terjadi bersamaan dengan tekanan global, maka dampaknya bisa semakin besar.
"Selain itu, faktor psikologis pasar pasca-libur panjang Lebaran juga berpengaruh. Pelaku pasar mungkin kembali dengan tingkat kewaspadaan atau kecemasan yang lebih tinggi terhadap akumulasi berita selama libur," tutup Achmad.(bianca)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: