6 Tradisi Unik Menyambut Tahun Baru Islam di Berbagai Daerah Indonesia, dari Pawai Obor hingga Tapa Bisu!
Ilustrasi tradisi menyambut tahun baru islam -Freepik-
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Tahun Baru Islam, atau yang dikenal dengan 1 Muharram, selalu menjadi momen yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh Indonesia.
Bukan sekadar pergantian tanggal di kalender, tapi sebuah waktu yang sarat dengan makna spiritual dan kultural.
Di berbagai pelosok nusantara, momen ini dirayakan dengan beragam tradisi yang unik dan kaya akan nilai-nilai kebersamaan, syukur, serta refleksi diri.
Setiap daerah punya cara tersendiri untuk menyambut tahun baru Hijriah. Ada yang memilih berdoa bersama di masjid, menggelar ziarah ke makam leluhur, hingga mengadakan festival seni dan budaya yang penuh warna.
Tradisi-tradisi ini bukan hanya sekadar rutinitas tahunan, melainkan juga sarana memperkuat ikatan sosial sekaligus mengingatkan kita pada perjalanan panjang sejarah Islam di tanah air.
BACA JUGA:Detik-detik Pergantian Kiswah Ka'bah Sambut Tahun Baru Islam 1447 H, Harga Senilai Rp108 Miliar
BACA JUGA:50 Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 2025, Penuh Doa dan Harapan
Lewat perayaan ini, masyarakat diajak untuk merenungi perjalanan hidup selama setahun terakhir, mengambil hikmah, dan menata niat agar tahun yang baru bisa dijalani dengan hati yang lebih bersih dan semangat yang baru.
Yuk, kita intip beberapa tradisi menarik yang dijalankan masyarakat di berbagai daerah Indonesia untuk merayakan Tahun Baru Islam!
1. Tapa Bisu di Yogyakarta
Kalau di banyak tempat tahun baru identik dengan suara gaduh kembang api dan terompet, Yogyakarta justru punya tradisi yang sangat berbeda.
Namanya Tapa Bisu, di mana masyarakat berjalan dalam keheningan tanpa alas kaki mengelilingi Benteng Keraton pada malam 1 Muharram.
Setelah ritual Jamasan Pusaka selesai, warga menempuh jarak sekitar 4 km dalam diam, tanpa suara, tanpa ucapan selamat. Suasana sunyi ini membawa rasa tenteram dan khidmat yang mendalam.
2. Sedekah Gunung Merapi di Boyolali
Di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali, ada tradisi tahunan bernama Sedekah Gunung Merapi. Warga membuat gunungan hasil bumi yang tinggi sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan.
Acara ini juga diramaikan dengan pertunjukan seni tradisional dan puncaknya adalah Kirab Sesaji. Sesaji berupa kepala kerbau yang kemudian dilarung ke pasar Bubrah di puncak Gunung Merapi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: