Fenomena 'Manusia Tikus' di China, Gen Z Pilih Rebahan daripada Kerja sebagai Bentuk Protes
Fenomena manusia tikus di China di kalangan Gen Z--pocketlight
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Fenomena baru muncul di kalangan anak muda China, khususnya Gen Z, yang memilih untuk tidak bekerja dan justru mengadopsi gaya hidup rebahan seharian. Mereka menyebut diri mereka sebagai 'rat people' atau 'manusia tikus', simbol dari generasi yang lelah dengan kerasnya sistem kerja dan sulitnya mencari pekerjaan di tengah ekonomi yang tidak stabil.
Alih-alih berusaha mencari pekerjaan, para 'manusia tikus' ini menghabiskan hari-hari mereka hanya di atas kasur. Aktivitas mereka terbatas pada doomscrolling, memesan makanan online, dan tidur. Pola hidup ini kini ramai dibicarakan di platform media sosial China seperti Weibo, RedNote, hingga Douyin.
Salah satu pengguna Douyin, @jiawensishi, bahkan menjadi viral karena rutin membagikan aktivitasnya sebagai 'manusia tikus', bangun siang, bermain ponsel sepanjang hari, lalu tidur kembali sebelum pukul delapan malam. Kontennya mendapatkan respons besar dari Gen Z lain yang merasa memiliki pengalaman serupa.
BACA JUGA:
- Mengapa Orang tua Dilarang Bandingkan Diri dengan Orang tua lainnya?
- Aaliyah Massaid Melahirkan! Reza Artamevia Kini Dipanggil 'Enin' dan Tulis Pesan Menyentuh
Komentar yang menyertainya pun tak kalah mengejutkan.
"Saya bahkan tidak duduk di sofa. Saya bangun hanya untuk ke kamar mandi dan makan, lalu kembali ke kasur. Saya bisa hidup seperti ini seminggu tanpa keluar rumah," tulis salah satu komentar dikutip dari Fortune.
Protes Halus terhadap Budaya Kerja
Fenomena ini diyakini sebagai kelanjutan dari gerakan "tang ping" atau "rebahan" yang populer pada 2021, sebagai bentuk protes terhadap budaya kerja '996' (bekerja dari jam 9 pagi hingga 9 malam selama 6 hari). Kini, “rat people” hadir sebagai sindiran terhadap ekspektasi sosial dan ekonomi yang dianggap terlalu menekan.
Menurut Advita Patel, pelatih karier dan presiden Chartered Institute of Public Relations, ini bukan sekadar kemalasan. "Mereka memilih berhenti dari sistem yang dianggap toksik untuk menjaga kesehatan mental," ujarnya.
Fenomena Global yang Meluas
Fenomena serupa ternyata tidak hanya terjadi di China. Di berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Eropa, banyak Gen Z yang memilih hidup sebagai NEET (Not in Employment, Education or Training). Mereka juga mengadopsi konsep bare minimum Mondays dan quiet quitting sebagai bentuk penolakan terhadap budaya kerja berlebihan.
Data menunjukkan bahwa lebih dari 4 juta Gen Z di AS kini tidak memiliki pekerjaan. Di China, angkanya mencapai 1 dari 6 anak muda, berdasarkan laporan Februari 2025. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran akan generasi muda yang menarik diri dari dunia kerja.
BACA JUGA:
- Artis Paling HOT di Indonesia Tahun 2025: Siapa Saja Mereka?
- Kumpulan 10 Cerita Horor Berdasarkan Kisah Nyata dan Sejarah Kelam yang Tersembunyi
Namun, para ahli memperingatkan bahwa meskipun gaya hidup ini bisa memberi ketenangan sementara, namun berisiko dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: