Momen Libur Sekolah, Cap Kaki Tiga Anak Ajak Orang Tua Bebaskan Anak Untuk Aktif Bereksplorasi Di Luar Ruangan
Cap Kaki Tiga--
Pengalaman menghadapi risiko secara langsung ini adalah bekal utama untuk membentuk mental anak yang tangguh dan mandiri.
Terlalu sering melarang dengan niat melindungi justru tanpa sadar mengirimkan pesan bahwa dunia ini sangat menakutkan dan mereka tidak cukup mampu menghadapinya.
Menariknya, membiarkan anak aktif bereksplorasi justru bekerja layaknya efek anti-phobic atau “vaksin kecemasan alami”.
Sebuah survei dari University of Exeter di Inggris terhadap 2.500 orang tua membuktikan bahwa anak yang akrab dengan permainan fisik yang menantang justru justru memiliki tingkat gejala kecemasan dan depresi yang jauh lebih rendah.
Lalu, bagaimana peran ibu agar anak tetap aman tanpa harus merasa dikekang? Jawabannya ada pada keseimbangan dan kepercayaan.
Pada usia sekolah dasar, ibu tidak perlu menempel atau memantau fisik dari jarak sangat dekat setiap waktu. Ibu bisa mulai menerapkan konsep supervision partnership.
Artinya, hal terpenting adalah kehadiran ibu yang senantiasa mudah dijangkau. Ibu cukup memposisikan diri sebagai zona aman (secure base) dan tempat berlindung (safe haven) bagi mereka.
Berikan jarak agar mereka bebas bermain, namun pastikan ibu tetap berada dalam jangkauan pandangan anak.
"Ketenangan ibu itu menular dan sangat krusial. Kalau kita terlalu mudah cemas atau sedikit sedikit melarang, anak justru akan menyembunyikan rasa sakit atau lelahnya karena takut disuruh berhenti bermain," jelas Saskhya.
Keseimbangan dan kepercayaan yang diberikan lewat metode ini diyakini akan semakin memperkuat mental anak untuk berani mandiri tanpa harus kehilangan rasa amannya.
Selain memberikan ruang gerak, kepekaan ibu juga sangat diuji dalam membaca sinyal halus anak. Saskhya memaparkan bahwa di usia tersebut, kemampuan anak untuk merasakan sinyal dari dalam tubuhnya (interoception) belumlah matang sempurna.
Rasa seru dan lonjakan hormon adrenalin saat bermain sering menutupi rasa lelah yang sebenarnya mereka rasakan. Belum lagi secara fisik, tubuh anak jauh lebih rentan mengalami dehidrasi dibandingkan orang dewasa karena proses penguapan cairan tubuh mereka terjadi lebih cepat.
Jadi, ketika si kecil mendadak rewel, lesu, atau mudah marah di tengah serunya bermain, jangan cepat melabeli mereka nakal. Perubahan sikap dadakan ini sebenarnya adalah cara mereka meminta bantuan (co regulation) sekaligus alarm awal bahwa tubuh mereka mulai dehidrasi.
Tanda rewel ini sering muncul mendahului gejala fisik lainnya yang lebih jelas, seperti bibir kering, wajah yang terasa hangat, atau jarang buang air kecil.
Saat alarm tubuh ini menyala, tugas ibu bukanlah langsung menyuruh anak berhenti bermain atau memaksa mereka pulang. Jadilah pendamping yang asyik dengan memfasilitasi masa jeda lewat cara yang imajinatif.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: