Nasib Harimau Malaya di Ujung Tanduk: CAS Putuskan Banding, AFC dan FIFA Siap Jatuhkan Sanksi!
Timnas Malaysia-ilustrasi-
RADARPENA.CO.ID - Di saat perhatian publik tertuju pada sidang banding di Court of Arbitration for Sport (CAS), sebenarnya ada ancaman yang jauh lebih besar membayangi sepak bola Malaysia.
Bukan sekadar soal menang atau kalah dalam banding, tetapi potensi sanksi lanjutan dari Asian Football Confederation (AFC) dan bahkan FIFA terhadap Football Association of Malaysia (FAM).
Kasus pemalsuan dokumen yang menyeret tujuh pemain naturalisasi Harimau Malaya kini memasuki babak akhir.
Hasil sidang banding di CAS menjadi penentu arah masa depan sepak bola Malaysia, terutama dalam ajang Kualifikasi Piala Asia 2027.
Tujuh Pemain di Pusat Kontroversi
Ketujuh pemain yang terlibat dalam kasus ini adalah Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Joao Figueiredo, Gabriel Palmero, Jon Irazabal, dan Hector Hevel.
Mereka merupakan pemain naturalisasi atau berdarah warisan (heritage) yang memperkuat Harimau Malaya dalam sejumlah pertandingan penting, termasuk kemenangan atas Nepal (2-0) dan Vietnam (4-0) di Kualifikasi Piala Asia 2027.
Namun, penggunaan mereka kini dipermasalahkan akibat dugaan pemalsuan dokumen dan ketidakabsahan status kelayakan bermain.
AFC Menunggu Putusan CAS
AFC sebelumnya menyatakan akan menunggu hasil banding di CAS sebelum mengambil keputusan resmi terhadap FAM. Namun banyak pengamat meyakini bahwa badan sepak bola Asia tersebut sebenarnya sudah menyiapkan skenario hukuman.
Jika keputusan CAS tidak berpihak kepada ketujuh pemain, maka AFC diperkirakan akan memberikan sanksi serupa dengan yang pernah dijatuhkan FIFA sebelumnya.
Sebagai catatan, FIFA telah membatalkan hasil tiga laga persahabatan Malaysia melawan Tanjung Verde, Singapura, dan Palestina. Dalam kasus itu, Malaysia dinyatakan kalah 0-3 karena terbukti menggunakan pemain yang tidak memenuhi syarat.
Jika pola yang sama diterapkan AFC, maka kemenangan atas Nepal dan Vietnam bisa diubah menjadi kekalahan 0-3. Artinya, Harimau Malaya berpotensi kehilangan enam poin krusial di klasemen.
Ancaman Gagal ke Piala Asia 2027
Analis sepak bola Malaysia, Zakaria Rahim, menilai ancaman terbesar bukanlah keputusan CAS itu sendiri, melainkan langkah lanjutan dari AFC dan FIFA.
"AFC mungkin sudah memiliki keputusan, tinggal menunggu waktu pengumumannya setelah keputusan CAS," ujarnya.
Menurut Zakaria, jika Nepal dan Vietnam diberikan kemenangan 3-0, maka peluang Malaysia ke Piala Asia 2027 praktis menipis drastis.
“Situasi ini berarti kita bisa melupakan Piala Asia 2027 sebelum menghadapi Vietnam lagi bulan depan,” katanya.
Kehilangan enam poin di fase kualifikasi jelas menjadi pukulan telak bagi skuad Harimau Malaya yang tengah membangun momentum kebangkitan.
BACA JUGA:Jadwal Liga Inggris Pekan Ini: Derby London Arsenal vs Chelsea Jadi Sajian Utama
Ancaman Skorsing dari FIFA
Tak hanya soal pengurangan poin, ada kemungkinan lebih serius: skorsing terhadap FAM.
Meski Sekretaris Jenderal AFC Datuk Seri Windsor John sempat menyebut FIFA kemungkinan tidak akan menjatuhkan suspensi karena adanya langkah pemulihan administrasi—termasuk pengunduran diri seluruh anggota Komite Eksekutif FAM—risiko itu belum sepenuhnya hilang.
Jika skorsing benar-benar dijatuhkan, dampaknya akan sangat luas. Seluruh tim nasional dan klub Malaysia bisa dilarang tampil di kompetisi internasional. Ekosistem sepak bola nasional pun terancam lumpuh.
“Jika diskors, itu pasti akan merusak ekosistem sepak bola nasional secara keseluruhan. Namun, jika tidak diskors, kita harus bersyukur,” ujar Zakaria.
Defisit Kepercayaan di Level Regional
Di luar sanksi teknis, masalah terbesar yang kini dihadapi Malaysia adalah defisit kepercayaan.
Kasus ini mencoreng reputasi sepak bola Malaysia di tingkat regional dan global. Zakaria bahkan menyamakan situasi ini dengan kasus yang pernah menimpa Timor Leste, yang dihukum karena persoalan pemalsuan dokumen pemain.
Hingga kini, kasus Timor Leste masih sering dijadikan referensi oleh FIFA dalam menjatuhkan sanksi kepada federasi lain. Malaysia berisiko mengalami hal serupa.
“Apa pun keputusan dari CAS, defisit kepercayaan akan tetap ada dan akan ada di benak semua orang,” kata Zakaria.
Dalam dunia sepak bola modern, reputasi dan integritas federasi menjadi fondasi utama kerja sama internasional, baik dalam penyelenggaraan turnamen, transfer pemain, maupun dukungan sponsor.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: