100 Hari Menuju Piala Dunia 2026: Perang Iran dan Kekerasan Meksiko Bayangi Turnamen Terbesar

100 Hari Menuju Piala Dunia 2026: Perang Iran dan Kekerasan Meksiko Bayangi Turnamen Terbesar

Seratus hari jelang Piala Dunia 2026, turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada menghadapi tantangan serius.-Foto:IST-

Radarpena.co.id - Hitungan mundur menuju Piala Dunia 2026 memasuki 100 hari terakhir. Namun alih-alih hanya membahas persiapan teknis dan atmosfer pesta sepak bola, dunia kini menyoroti konflik geopolitik dan persoalan keamanan yang membayangi turnamen terbesar sepanjang sejarah tersebut.

Turnamen yang akan dibuka pada 11 Juni 2026 itu digelar bersama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Untuk pertama kalinya, 48 tim ambil bagian, meningkat dari 32 peserta pada edisi sebelumnya di Qatar. Laga pembuka dijadwalkan berlangsung di Mexico City saat tuan rumah Meksiko menghadapi Afrika Selatan.

Namun situasi global berubah drastis. Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran menciptakan ketidakpastian baru. Iran menjadi salah satu tim pertama yang lolos kualifikasi dan dijadwalkan memainkan dua laga fase grup di Inglewood, California, serta satu pertandingan di Seattle.

Status keikutsertaan Iran kini menjadi tanda tanya. Otoritas sepak bola Iran menyatakan sulit menatap turnamen dengan optimisme di tengah serangan militer yang menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior. Meski demikian, hingga kini Iran belum mengumumkan pengunduran diri. Dalam 75 tahun sejarah Piala Dunia, belum pernah ada tim yang sudah lolos memilih mundur karena konflik bersenjata.

Ketegangan geopolitik sebenarnya bukan hal baru dalam Piala Dunia. Pada 2022, sorotan tertuju pada isu hak pekerja migran dan komunitas LGBTQ+ di Qatar. Rusia menghadapi tekanan internasional pada 2018, sementara Brasil dan Afrika Selatan sempat diselimuti kekhawatiran soal keamanan pada 2014 dan 2010. Namun edisi 2026 menghadirkan kompleksitas yang lebih luas karena melibatkan tiga negara tuan rumah dan dinamika politik Amerika Serikat yang memengaruhi banyak negara peserta melalui kebijakan tarif dan pembatasan perjalanan.

Di sisi lain, Meksiko menghadapi tantangan domestik. Lonjakan kekerasan kartel di Negara Bagian Jalisco, setelah operasi militer menewaskan seorang bos kartel berpengaruh, memicu kekhawatiran terhadap keamanan Guadalajara. Kota tersebut dijadwalkan menggelar empat pertandingan fase grup. Pemerintah Meksiko menegaskan turnamen tetap aman digelar, dan Presiden Claudia Sheinbaum menyatakan tidak ada risiko bagi penggemar yang datang.

Di Amerika Serikat, sejumlah rencana fan festival dipangkas. New York/New Jersey membatalkan Fan Fest di Jersey City meski tiket sudah sempat dijual. Seattle mengurangi skala acara dan memindahkannya ke lokasi lebih kecil, sementara Boston memangkas durasi kegiatan menjadi 16 hari. Beberapa kota tuan rumah menyebut keterbatasan pendanaan federal sebagai alasan utama. Bahkan, pejabat di Miami menyatakan kemungkinan pembatalan jika dukungan dana tidak turun tepat waktu.

Isu lain muncul dari Foxborough, Massachusetts. Stadion kandang New England Patriots dijadwalkan menggelar tujuh laga, termasuk perempat final. Namun otoritas lokal menolak menerbitkan izin sebelum biaya pengamanan dan operasional sebesar 7,8 juta dibayarkan. Situasi ini membuka potensi sengketa administratif menjelang turnamen.

Di tengah dinamika tersebut, FIFA juga menghadapi kritik terkait harga tiket. Organisasi itu menyediakan sekitar 7 juta kursi untuk 104 pertandingan dan mengklaim menerima 500 juta permintaan tiket. Harga tertinggi sempat mencapai 8.680 per lembar. Setelah protes publik, FIFA berjanji menyediakan ratusan tiket seharga 60 untuk setiap pertandingan yang akan didistribusikan melalui federasi nasional kepada suporter loyal.

Meski tekanan datang dari berbagai arah, Presiden FIFA Gianni Infantino berulang kali menyatakan optimisme. Ia menegaskan Piala Dunia 2026 akan menjadi yang terbesar dan paling inklusif dalam sejarah.

Seratus hari menjelang kick-off, dunia belum sepenuhnya berbicara tentang strategi tim atau bintang lapangan. Sorotan justru tertuju pada bagaimana olahraga paling populer di planet ini bertahan di tengah pusaran konflik global dan tantangan keamanan. Jika sejarah menjadi acuan, gemuruh pertandingan bisa saja meredam riuh politik. Namun untuk saat ini, panggung Piala Dunia 2026 berdiri di tengah lanskap dunia yang tidak sepenuhnya stabil.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait