Mubeng Beteng: Ritual Tapa Bisu Malam 1 Suro, Warisan Keraton yang Menyatu dengan Spirit Hijrah
Mubeng Beteng Karatan Ngayogyakarta Hadiningrat --Dinas Kebudayaan
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Di Yogyakarta, malam 1 Suro bukan hanya pergantian tahun dalam kalender Jawa Islam.
Ini menjadi waktu sakral, penuh makna, dan diliputi suasana spiritual yang dalam, salah satu tradisi yang menjadi ikon malam ini adalah Mubeng Beteng, yaitu prosesi berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta dalam keheningan total, tanpa alas kaki, tanpa suara, tanpa makan dan minum.
Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan tahunan, tetapi warisan spiritual dari masa Keraton yang sarat nilai-nilai filsafat hidup Jawa dan ajaran Islam.
BACA JUGA:Mengapa Malam 1 Suro Dianggap Sakral? Ini Asal Usul dan Mitos Mistisnya
BACA JUGA:Pantang Dilakukan! 5 Kegiatan yang Harus Dihindari saat Malam 1 Suro Biar Gak Sial
Asal Usul Dari Keraton untuk Rakyat
Mubeng Beteng berasal dari budaya Keraton Yogyakarta, dan diyakini pertama kali dilakukan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I di akhir abad ke-18.
Dalam bahasa Jawa, "mubeng" berarti mengelilingi, sedangkan "beteng" merujuk pada benteng yang mengelilingi wilayah inti keraton.
Dulunya, ritual ini adalah bagian dari laku tirakat para abdi dalem atas perintah Sultan, sebagai bentuk penyambutan spiritual terhadap datangnya tahun baru 1 Suro—yang juga bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah.
Saat itu, hanya kalangan keraton yang boleh ikut serta, namun seiring waktu, tradisi ini dibuka untuk umum.
Kini, ribuan orang dari berbagai lapisan masyarakat termasuk wisatawan ikut serta dalam ritual ini.
Artinya, Mubeng Beteng telah berkembang menjadi refleksi kolektif spiritual dan sosial bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya.
Tata Cara Mubeng Beteng
Pelaksanaan Mubeng Beteng dimulai dari area Keben Keraton Yogyakarta, tempat para peserta berkumpul untuk pembacaan tembang Macapat dan doa bersama.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: