Mubeng Beteng: Ritual Tapa Bisu Malam 1 Suro, Warisan Keraton yang Menyatu dengan Spirit Hijrah

Mubeng Beteng: Ritual Tapa Bisu Malam 1 Suro, Warisan Keraton yang Menyatu dengan Spirit Hijrah

Mubeng Beteng Karatan Ngayogyakarta Hadiningrat --Dinas Kebudayaan

Suasana dibuat khusyuk, sebagai bentuk penyucian batin sebelum memulai perjalanan sunyi.

Setelah sambutan dari pihak keraton, lonceng dibunyikan 12 kali sebagai penanda dimulainya prosesi. 

Para peserta kemudian berjalan kaki tanpa alas kaki, dalam keheningan mutlak (tapa bisu), menyusuri rute sepanjang 5 kilometer mengelilingi benteng keraton.

Perjalanan ini dilakukan melawan arah jarum jam, yang secara filosofis melambangkan perlawanan terhadap hawa nafsu dan awal dari perenungan diri yang baru.

Selama prosesi berlangsung, peserta dilarang berbicara, makan, minum, ataupun merokok. Setiap langkah menjadi bagian dari refleksi dan doa dalam diam, mereka melewati jalur-jalur bersejarah seperti Jalan Rotowijayan, Kauman, Pojok Beteng Kulon, hingga kembali ke Alun-Alun Utara.

BACA JUGA:Malam 1 Suro 2025 Jatuh Tanggal Berapa? Ini 5 Weton Paling Hoki dan Kaya Mendadak!

BACA JUGA:5 Ciri-ciri Kuat Pemilik Weton Tulang Wangi yang Sering Dikaitkan dengan Malam 1 Suro

Makna Filosofis Dari Tirakat Jawa ke Jejak Hijrah Nabi

Mubeng Beteng mengandung makna spiritual yang dalam, ini adalah wujud lampah ratri perjalanan malam yang mengajak peserta untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui keheningan dan kesederhanaan.

Berjalan tanpa alas kaki melambangkan kerendahan hati. Tidak berbicara menjadi latihan pengendalian diri. Sedangkan berjalan dalam kegelapan malam adalah metafora dari perjalanan batin menuju terang spiritual yang baru.

Tradisi ini juga diilhami oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, sebuah momen penting dalam sejarah Islam yang menandai perubahan, perjuangan, dan awal yang baru. 

Maka, Mubeng Beteng tidak hanya lekat dengan budaya Jawa, tetapi juga menyerap nilai-nilai religius Islam.

Warisan Budaya yang Tetap Relevan

Meskipun tidak lagi menjadi ritual resmi keraton, Mubeng Beteng kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Yogyakarta

Bukan hanya bentuk pelestarian tradisi, tetapi juga sarana mempererat solidaritas sosial dan kecintaan terhadap nilai-nilai spiritual yang telah diwariskan leluhur.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait