Viral! Poin SMAN 1 Pontianak Dipotong Juri di Final LCC MPR Gara-gara Artikulasi Tak Jelas

Viral! Poin SMAN 1 Pontianak Dipotong Juri di Final LCC MPR Gara-gara Artikulasi Tak Jelas

Viral LCC Empat Pilar MPR RI 2026 Kalbar memicu polemik penjurian antara SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas. Foto: Youtube MPRRIOfficial.--

Radarpena.co.id - Jagat media sosial kembali ramai oleh perdebatan panas dari ajang Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Kalimantan Barat. Bukan karena sekadar adu cepat menjawab pertanyaan, melainkan karena keputusan dewan juri yang dianggap tidak konsisten dan memicu protes dari peserta.

Polemik bermula ketika Regu C dari SMAN 1 Pontianak mendapat pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota BPK. Dalam jawabannya, mereka menyebut bahwa anggota BPK dipilih oleh DPR dengan mempertimbangkan masukan dari DPD dan kemudian disahkan oleh Presiden.

Namun, suasana langsung berubah ketika dewan juri memutuskan untuk mengurangi 5 poin dari jawaban tersebut. Alasannya bukan pada substansi jawaban, melainkan pada pelafalan atau artikulasi kata “Dewan Perwakilan Daerah” yang dianggap tidak terdengar jelas.

Keputusan itu langsung memicu reaksi dari peserta. Regu C merasa penilaian tersebut tidak adil, apalagi inti jawaban yang mereka sampaikan dinilai sudah benar secara substansi.

Yang membuat polemik semakin memanas, pertanyaan yang sama kemudian diberikan kepada Regu B dari SMAN 1 Sambas. Menariknya, jawaban yang mereka berikan sama dengan Regu C.

Namun, alih-alih mendapat pengurangan poin, Regu B justru mendapatkan tambahan 10 poin dari dewan juri. Kondisi ini sontak memicu perbandingan di kalangan peserta maupun penonton yang menyaksikan jalannya lomba.

Tidak tinggal diam, Regu C dari SMAN 1 Pontianak langsung melayangkan protes di lokasi lomba. Mereka mempertanyakan dasar pengurangan nilai yang diberikan oleh dewan juri, terutama karena jawaban yang diberikan dinilai sudah sesuai substansi pertanyaan.

Namun, dewan juri tetap pada keputusan awal. Mereka menegaskan bahwa kejelasan pelafalan menjadi salah satu faktor penting dalam penilaian.

Di tengah suasana yang memanas, pembawa acara dalam siaran lomba ikut memberikan tanggapan yang justru memperkeruh keadaan. Ia menyebut bahwa kemungkinan ketidakpuasan peserta hanya sebatas perasaan mereka saja.

Pernyataan tersebut langsung menuai reaksi dari penonton yang menyaksikan siaran. Banyak yang menilai respons tersebut kurang sensitif terhadap situasi yang sedang terjadi, terlebih karena peserta sedang mempertanyakan keadilan penilaian.

Situasi ini kemudian menyebar luas setelah video perdebatan tersebut viral di media sosial. Warganet ikut ramai membahas perbedaan perlakuan yang terjadi dalam satu sesi penjurian yang sama.

Banyak pihak menilai bahwa kasus ini menunjukkan pentingnya transparansi dan konsistensi dalam sistem penilaian kompetisi akademik, terutama yang melibatkan pelajar dari berbagai daerah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: