Terungkap Hasil Lab BPOM & Penyebab Medis Siswa MIN 2 Ketahun Meninggal Usai Menu MBG
Ilustrasi Burger MBG--
radarpena.co.id - Teka-teki penyebab meninggalnya M. Fatih (8), siswa MIN 2 Ketahun yang sempat dikaitkan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), akhirnya terjawab.
Hasil investigasi mendalam dari Badan Gizi Nasional (BGN) dan uji laboratorium BPOM mengungkap fakta medis yang mengejutkan sekaligus menepis isu keracunan massal.
Kronologi Kejadian: Isu Keracunan Burger yang Sempat Viral
Peristiwa memilukan ini bermula pada Minggu malam (1/3/2026), saat Fatih dinyatakan meninggal dunia. Sebelumnya, beredar kabar di media sosial dan grup WhatsApp wali murid bahwa korban jatuh sakit setelah mengonsumsi menu MBG berupa burger roti, pisang, dan kacang.
BACA JUGA:Camat Bekasi Barat Pastikan 15 Kafe di Pasar Bintara Ditutup, Tegaskan Penegakan Maklumat Wali Kota
Foto-foto korban saat perawatan medis sempat memicu kepanikan luar biasa di kalangan orang tua siswa, hingga muncul imbauan untuk menghentikan konsumsi paket makanan sekolah tersebut.
Fakta Medis: Hasil CT Scan Temukan Pendarahan Otak
Berlawanan dengan spekulasi yang beredar, hasil pemeriksaan medis profesional menunjukkan kondisi yang berbeda. Berdasarkan pemindaian CT Scan di RS Bhayangkara Bengkulu, ditemukan adanya pendarahan otak pada korban.
Saat pertama kali dibawa ke RSUD Lagita, kondisi Fatih sudah sangat kritis dengan skor Glasgow Coma Scale (GCS) 6, yang menandakan cedera otak berat. Meski sempat dirujuk ke RS Tiara Sella untuk tindakan bedah saraf, nyawa korban tidak tertolong 12 jam pasca-operasi.
Hasil Uji Lab BPOM: Bersih dari Zat Berbahaya
Untuk memastikan keamanan pangan, BPOM melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan dari dapur SPPG Giri Kencana. Hasilnya secara mengejutkan menunjukkan bahwa menu burger tersebut aman dikonsumsi.
Berikut rincian hasil uji laboratorium BPOM:
- Bakteri: Negatif E. coli.
- Bahan Kimia: Negatif Boraks, Formalin, dan Nitrit.
- Racun Berbahaya: Tidak ditemukan kandungan Arsen maupun Sianida.
- Cemaran Lain: Tidak ada indikasi zat asing penyebab keracunan pangan.
"Korban bahkan diketahui belum sempat menyantap menu MBG saat ditemukan pingsan," tegas Nanik Sudaryati Deyang, Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik.
Perbandingan Data: 1 dari 1.800 Siswa
Salah satu bukti kuat bahwa ini bukan kasus keracunan massal adalah data distribusi makanan. Dari total 1.800 siswa penerima manfaat MBG di hari yang sama, hanya ada satu kasus gangguan kesehatan, yakni Fatih, dengan diagnosa klinis spesifik pada otak.
BACA JUGA:Polda Metro Jaya Selidiki Dugaan Penganiayaan ART di Jakarta Utara
Langkah Penyelidikan Kepolisian
Kapolres Bengkulu Utara, Bakti Kautsar Ali, menyatakan bahwa pihak kepolisian tetap melakukan penyelidikan prosedur standar (SOP) untuk menjamin keamanan publik. Langkah yang telah diambil meliputi:
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: