Hari Ibu 2025: Refleksi Perjuangan Perempuan dan Solidaritas Lintas Generasi di Masa Krisis
Dr. Ir. Giwo Rubianto, M.Pd, Presiden Federasi Bisnis Profesional Wanita Indonesia (BPW Indonesia) sekaligus UN Standing Committee BPW International--
Radarpena.co.id – Peringatan Hari Ibu yang jatuh setiap 22 Desember sejatinya merupakan sebuah momentum sejarah yang mendalam, melampaui sekadar perayaan seremonial tahunan. Sejarah mencatat bahwa Hari Ibu lahir dari semangat Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928. Kala itu, para perempuan dari seluruh penjuru nusantara bersatu demi menyuarakan hak, martabat, dan peran strategis mereka dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.
Dr. Ir. Giwo Rubianto, M.Pd, Presiden Federasi Bisnis Profesional Wanita Indonesia (BPW Indonesia) sekaligus UN Standing Committee BPW International, menegaskan bahwa perayaan ini adalah cermin dari nilai perjuangan dan persatuan. Menurutnya, para founding mothers telah mewariskan kepedulian sosial yang menjadi fondasi kekuatan bangsa hingga saat ini.
Ketangguhan Perempuan di Tengah Bencana Alam
Momentum Hari Ibu tahun ini terasa berbeda karena bertepatan dengan situasi darurat bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatera. Dalam kondisi krisis tersebut, perempuan, terutama sosok ibu, kembali membuktikan ketangguhan mereka sebagai garda terdepan dalam menjaga keselamatan keluarga.
Ibu-ibu di daerah terdampak bencana bekerja ekstra keras untuk memastikan kebutuhan dasar anak-anak terpenuhi. Mereka menjadi pilar utama yang memperkuat ketahanan komunitas meski berada dalam keterbatasan ruang dan logistik. Peran ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki daya tahan yang luar biasa saat menghadapi tekanan situasi darurat.
Peran Vital Tenaga Medis Perempuan dalam Respons Kemanusiaan
Selain di lingkungan keluarga, kaum perempuan juga mendominasi barisan tenaga medis dan perawat yang terjun langsung ke lapangan. Mereka mengabaikan risiko pribadi demi memberikan pelayanan kesehatan serta pendampingan psikologis bagi para korban bencana di Sumatera.
Dr. Giwo Rubianto menekankan bahwa fenomena ini adalah bukti nyata bahwa perempuan bukan sekadar korban bencana. "Perempuan merupakan aktor penting dalam respons kemanusiaan dan pemulihan sosial. Ketahanan bangsa sering kali bertumpu pada kekuatan perempuan," ujar Dr. Giwo. Dedikasi tanpa lelah dari para perawat dan dokter perempuan ini menjadi motor penggerak pulihnya kondisi sosial di wilayah terdampak.
Solidaritas Gen Z dan Milenial: Wajah Baru Kepedulian
Satu hal yang menarik dalam krisis kali ini adalah gerak cepat Generasi Z dan Milenial. Anak muda Indonesia menunjukkan empati yang tinggi dengan memanfaatkan teknologi dan jejaring sosial untuk menggalang bantuan secara masif. Mereka menyebarkan informasi akurat dan turun langsung ke lokasi bencana untuk membantu proses evakuasi dan distribusi logistik.
Dr. Giwo mengapresiasi kolaborasi lintas generasi ini sebagai wajah baru solidaritas bangsa. Ia menilai bahwa keberanian dan kecepatan gerak anak muda merupakan buah dari keteladanan yang selama ini mereka lihat dari sosok ibu dan tokoh perempuan di sekitar mereka.
Momentum Memperkuat Perlindungan Perempuan
Sebagai penutup, Dr. Giwo berharap agar Hari Ibu tidak berhenti sebagai peringatan simbolik semata. Ia mendorong pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat perlindungan terhadap perempuan, terutama dalam situasi krisis. Kolaborasi lintas generasi antara perempuan tangguh dan pemuda yang empatik menjadi modal sosial besar bagi Indonesia untuk bangkit.
Pesan utama dari peringatan tahun ini adalah pentingnya mendukung peran perempuan dalam pengambilan keputusan saat masa sulit. Dengan memperkuat posisi perempuan, Indonesia akan memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: