Sepakbola Tarkam Berdarah di Banjarnegara: Polisi Luka, Suporter Masuk Rumah Sakit

Sepakbola Tarkam Berdarah di Banjarnegara: Polisi Luka, Suporter Masuk Rumah Sakit

Tangkapan layar rusuh pertandingan sepakbola tarkam di Banjarnegara--

BANJARNEGARA, RADARPENA.CO.ID – Kerusuhan berdarah kembali mencoreng wajah sepak bola Indonesia, kali ini terjadi dalam sebuah turnamen antar kampung (tarkam) di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Dalam sebuah video yang diunggah akun Instagram @wasitmafia, terlihat situasi chaos usai pertandingan: baku hantam, bentrok fisik, hingga beberapa orang—termasuk aparat kepolisian—terluka dan berdarah.

"Dari Tragedi Kanjuruhan, Sepakbola Banjarnegara nggak pernah belajar," tulis keterangan dalam video yang telah ditonton ribuan kali itu.

BACA JUGA:Viral! Video Guru di Malaysia Ngamuk karena Siswanya Gunakan Bahasa Indonesia

Video berdurasi singkat yang direkam oleh warga memperlihatkan suasana mencekam. Sorak suporter berubah menjadi teriakan, kursi melayang, dan sejumlah peserta pertandingan terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena luka serius.

Beberapa anggota kepolisian juga terlihat berdarah saat mencoba mengamankan situasi.

Meski kronologi awal belum dirilis resmi oleh pihak berwenang, banyak netizen berspekulasi bahwa kericuhan dipicu ketidakpuasan suporter karena timnya kalah.

Dugaan lain yang mengemuka: unsur taruhan dan ketidakpuasan terhadap keputusan wasit.

"Efek tarkam pada taruhan, wasit kurang fair. Kesalahan kecil jadi besar," tulis akun @achmad***.

"Intinya kalah taruhan," sahut akun lain, @wahyud***.

BACA JUGA:Banjir Jakarta Makin Parah: 100 RT Terendam, Hampir 1.000 Warga Mengungsi

Komentar-komentar tersebut memperkuat dugaan bahwa pertandingan tarkam kini semakin rawan konflik karena tekanan taruhan dan minimnya regulasi wasit.

Kejadian ini kembali menampar wajah sepak bola akar rumput Indonesia yang belakangan terus disorot soal manajemen pertandingan, regulasi wasit, hingga pengamanan.

Pengamat olahraga menyebut turnamen tarkam memang memiliki daya tarik lokal, namun kerap minim pengawasan dan rentan konflik horizontal.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: