Viral! Aksi Tak Manusiawi Petugas Terhadap Tunanetra di Pematangsiantar Dikecam, 'Tongkat Saya Mana?!'
Tangkapan layar aksi tak manusiawi petugas berseragam terhadap penyandang tunanetra di Pematang Siantar --
PEMATANGSIANTAR, RADARPENA.CO.ID – Sebuah video menyentuh hati mendadak viral di media sosial, memperlihatkan momen memilukan saat seorang pria tunanetra berinisial HH mengamuk dan berteriak histeris ketika diamankan oleh petugas berseragam di depan Toko Roti Ganda, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.
Dalam video tersebut, terlihat HH berusaha melawan ketika hendak dibawa. Tongkat bantu tunanetra yang menjadi alat vitalnya terjatuh, membuat HH panik dan berteriak keras: “Tongkat saya mana?!”.
Suara lirih penuh kecemasan itu memicu simpati netizen yang mengecam perlakuan tidak manusiawi terhadap difabel.
BACA JUGA:Densus 88 Turun Tangan Usut Ancaman Bom Pesawat Saudi Airlines yang Angkut 442 Jemaah Haji Indonesia
Menanggapi viralnya video tersebut, Plt Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kota Pematangsiantar, Risbon Sinaga, buka suara.
Ia membenarkan bahwa razia memang berlangsung di area tersebut, namun menyayangkan video yang beredar tidak menampilkan kronologi lengkap.
“Mungkin yang divideokan itu pas saat HH melawan. Tapi video dari awal razia tidak ditampilkan, jadi publik hanya melihat satu sisi,” kata Risbon, Selasa (17/6/2025).
Risbon menambahkan bahwa razia dilakukan sesuai SOP, diawali apel dan melibatkan petugas dari Satpol PP dan Polres setempat.
Razia tersebut merupakan respons atas keluhan pengusaha Toko Roti Ganda yang mengaku resah dengan kehadiran pengemis dan gelandangan di sekitarnya.
BACA JUGA:3 Pelaku Penembakan WNA Australia di Bali Ditangkap, 1 Diamankan di Jakarta
Bukan Warga Lokal
Dari data Dinsos, HH bukan warga Kota Pematangsiantar dan telah tiga kali terjaring dalam razia serupa. Setelah insiden tersebut, HH sempat dibawa ke Kantor Dinsos P3A di Jalan Dahlia bersama tujuh orang lainnya yang terdiri dari pengemis, gelandangan, dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Semua diamankan untuk pendataan, diberi makanan, dan sebagian diantar ke daerah asal masing-masing.
“HH kami kembalikan ke kosnya setelah membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi lagi,” ujar Risbon.
Risbon mengungkapkan bahwa pihaknya telah menawarkan agar HH mengikuti pelatihan keterampilan di UPTD Pelayanan Sosial Tunanetra dan Tunadaksa Sungai Buluh-Tebing Tinggi, namun HH menolak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: