Kemacetan Jakarta: Tinjauan Pakar atas Akar Masalah yang Tak Kunjung Usai
Para pakar sepakat bahwa solusi jangka panjang harus berbasis integrasi sistem, perubahan budaya, serta konsistensi dalam pengawasan dan penegakan hukum. Investasi besar dalam infrastruktur harus diimbangi dengan edukasi masyarakat dan kebijakan yang mend--
4. Manajemen Lalu Lintas yang Kurang Efektif
Banyak pakar menilai bahwa manajemen lalu lintas Jakarta masih belum maksimal. Sistem lampu lalu lintas belum pintar atau adaptif terhadap kondisi nyata di lapangan. Selain itu, koordinasi antar instansi seperti Dinas Perhubungan, Kepolisian, dan Pemerintah Daerah belum sinkron sepenuhnya.
BACA JUGA:10 Cara Ampuh Hilangkan Stres saat Macet: Musik Bisa Jadi Terapi yang Efektif
5. Kawasan Tidak Berbasis Transit-Oriented Development (TOD)
Salah satu kritik dari pakar tata kota adalah pembangunan kota yang tidak mengedepankan Transit-Oriented Development, yakni pengembangan wilayah yang terkoneksi langsung dengan simpul transportasi publik. Akibatnya, warga tinggal jauh dari stasiun atau halte, dan kembali memilih kendaraan pribadi sebagai solusi.
6. Parkir Liar dan PKL yang Menyempitkan Jalan
Data dari Bappenas dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunjukkan bahwa parkir liar dapat mengambil 20–30% dari lebar badan jalan di kawasan tertentu. Ditambah dengan keberadaan pedagang kaki lima yang tidak tertata, lalu lintas menjadi makin tersendat.
7. Ketidaktertiban Pengendara
Faktor budaya juga memainkan peran besar. Banyak pengendara di Jakarta yang tidak tertib lalu lintas, seperti melawan arus, berhenti sembarangan, atau menggunakan bahu jalan. Hal-hal ini memperparah kemacetan di titik-titik tertentu, terutama di jalan sempit atau tanpa pengawasan petugas.
BACA JUGA:Jalur Macet Menuju Kawasan Puncak Jadi Spot Foto Instagramable
Menuju Solusi: Apa yang Bisa Dilakukan?
Meski tantangan besar, para pakar sepakat bahwa solusi jangka panjang harus berbasis integrasi sistem, perubahan budaya, serta konsistensi dalam pengawasan dan penegakan hukum. Investasi besar dalam infrastruktur harus diimbangi dengan edukasi masyarakat dan kebijakan yang mendukung pengurangan kendaraan pribadi.
Jakarta tak bisa diselamatkan hanya dengan beton dan aspal. Perubahan perilaku dan visi pembangunan kota yang manusiawi adalah kunci untuk melepaskan ibu kota dari jerat kemacetan yang telah lama mengakar.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: