Kemacetan Jakarta: Tinjauan Pakar atas Akar Masalah yang Tak Kunjung Usai
Para pakar sepakat bahwa solusi jangka panjang harus berbasis integrasi sistem, perubahan budaya, serta konsistensi dalam pengawasan dan penegakan hukum. Investasi besar dalam infrastruktur harus diimbangi dengan edukasi masyarakat dan kebijakan yang mend--
Radarpena.co.id, Jakarta - Jakarta, ibu kota Indonesia, dikenal dengan dinamika perkotaannya yang sibuk sekaligus menjadi ikon kemacetan yang kronis. Meski berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, dari pembangunan moda transportasi massal hingga penerapan ganjil-genap, kemacetan tetap menjadi momok harian bagi jutaan warga. Lalu, apa sebenarnya penyebab utama kemacetan di Jakarta menurut para pakar?
1. Pertumbuhan Kendaraan yang Tidak Seimbang
Menurut Prof. Yayat Supriatna, pakar transportasi dari Universitas Indonesia, salah satu akar utama kemacetan di Jakarta adalah pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi yang mencapai 5–7% per tahun. Di sisi lain, pertumbuhan kapasitas jalan sangat lambat, hanya sekitar 0,01% per tahun. Ketidakseimbangan ini menyebabkan kepadatan lalu lintas yang sulit terurai, terutama di jam sibuk.
> “Jalanan Jakarta tidak bertambah, tapi jumlah kendaraan terus meningkat tiap tahun. Ini tidak seimbang dan jelas menjadi sumber kemacetan,” ujar Prof. Yayat.
2. Ketergantungan Tinggi terhadap Kendaraan Pribadi
Lembaga riset transportasi INSTRAN mencatat bahwa mayoritas penduduk Jakarta masih sangat bergantung pada kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor. Alasan utamanya adalah ketidaknyamanan menggunakan angkutan umum, baik dari sisi waktu, fasilitas, maupun keamanan.
> “Warga masih belum percaya sepenuhnya pada angkutan umum. Mereka merasa lebih fleksibel dengan kendaraan sendiri,” kata Taufik Hidayat, peneliti dari INSTRAN.
3. Minimnya Integrasi Moda Transportasi Publik
Djoko Setijowarno dari Masyarakat Transportasi Indonesia menyoroti bahwa integrasi antar moda seperti MRT, LRT, TransJakarta, dan KRL belum sepenuhnya terhubung dengan efisien. Masyarakat harus berpindah moda dengan berjalan jauh atau berganti rute tanpa sistem terpadu yang nyaman.
> “Tanpa integrasi yang baik, masyarakat enggan beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal,” jelas Djoko.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: