Tren Quiet Quitting makin marak di Jepang, Begini Pola Pikirnya

Tren Quiet Quitting makin marak di Jepang, Begini Pola Pikirnya

Quiet Quitting di Jepang berbeda cara dengan di Amerika--

"Ada perubahan besar dalam sikap terhadap pekerjaan di kalangan anak muda dibanding generasi saya yang berusia 50-an," katanya.

 

"Dulu, para karyawan sangat setia kepada kantor mereka, bekerja berjam-jam, bekerja lembur tanpa bayaran, dan tidak ingin berpindah perusahaan," katanya.

"Sebagai imbalannya, mereka dan keluarga mereka dinafkahi sampai mereka pensiun."

 

Saat ini, anak muda justru ingin "berkonsentrasi pada hobi mereka, lebih bebas dan punya pekerjaan serta kehidupan pribadi yang lebih seimbang," katanya.

 

Tsuji melihat pergeseran ini sebagai perubahan yang disambut baik, terutama dengan tingginya tuntutan dari perusahaan di Jepang terhadap karyawan mereka selama beberapa dekade.

"Ini merupakan hal yang baik," kata Tsuji.

"Dulu orang-orang terlalu loyal pada perusahaan mereka dan tidak memiliki kehidupan di luar kantor. Sekarang, jika mereka punya lebih banyak waktu luang, mungkin mereka akan menghabiskan lebih banyak uang dan membantu perekonomian, atau yang lebih penting lagi, bertemu dengan pasangan dan berkeluarga. Hal ini penting karena jumlah penduduk semakin berkurang."

 

Kematian karena overwork

Kawakami menambahkan alasan lain mengapa quiet quitting menandai perubahan ke arah yang lebih baik bagi jutaan karyawan Jepang.

"Saya menyambut baik perubahan ini karena generasi pekerja yang lebih tua akan memberikan 150% kepada perusahaan mereka, namun harga yang harus mereka bayar adalah 'karoshi'," ujarnya, yakni istilah dalam bahasa Jepang untuk kematian yang diakibatkan oleh kerja berlebihan.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: