Tren Quiet Quitting makin marak di Jepang, Begini Pola Pikirnya
Quiet Quitting di Jepang berbeda cara dengan di Amerika--
"Menurut saya, lebih baik menyeimbangkan antara pekerjaan dan hal-hal yang ingin saya lakukan di luar kantor. Saya yakin, sebagian besar teman saya juga merasakan hal yang sama."
BACA JUGA:Fenomena Soshoku Joshi: Wanita Mandiri di Tengah Perubahan Sosial
Studi Mynavi menyimpulkan bahwa memiliki lebih banyak waktu untuk diri sendiri adalah motivasi utama sebagian besar orang melakukan quiet quitting.
Sebagian mengaku jumlah pekerjaan yang mereka lakukan sudah sepadan dengan bayaran yang diterima. Mereka juga mengaku puas dengan kontribusi yang mereka berikan dan tetap merasa ada pencapaian dari pekerjaan mereka.
Sebagian lainnya mengaku bekerja secukupnya demi bertahan hidup, karena mereka merasa kontribusi terhadap perusahaan tidak dihargai. Tak hanya itu, mereka juga tidak tertarik untuk naik jabatan atau naik level di karier mereka.
"Banyak anak muda yang melihat orang tua mereka mengorbankan hidup untuk perusahaan, bekerja lembur berjam-jam dan mengorbankan kehidupan pribadi mereka," ujar Sumie Kawakami, seorang dosen ilmu sosial di Universitas Yamanashi Gakuin dan seorang konsultan karier profesional. "Mereka kini tahu bahwa itu bukanlah hal yang mereka inginkan."
"Dulu, kantor akan membayar upah yang adil dan memberikan tunjangan sehingga orang akan tetap bekerja di perusahaan yang sama sampai pensiun," katanya kepada DW.
"Namun sekarang berbeda, banyak perusahaan berusaha memangkas biaya, tidak semua staf kini memiliki kontrak kerja penuh, serta gaji dan bonus tidak lagi sebesar dulu," tambahnya.
Berhenti memberikan segalanya untuk perusahaan
Menurut Kawakami, semakin banyak orang yang tidak merasa berkewajiban untuk mengorbankan diri untuk perusahaan.
Juga sejak pandemi, banyak orang yang mulai mempertanyakan prioritas mereka. Generasi dewasa muda kini mulai "sulit menerima konsep komitmen seumur hidup untuk satu perusahaan," kata Kawakami.
Izumi Tsuji, seorang profesor sosiologi budaya di Universitas Chuo Tokyo, mengatakan bahwa pengalamannya dengan anak muda membuatnya menyimpulkan hal yang sama.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: