Alasan Banyak Perusahaan Pecat Karyawan Gen Z, Ini Faktor Penyebabnya

Alasan Banyak Perusahaan Pecat Karyawan Gen Z, Ini Faktor Penyebabnya

Ilustrasi seorang karyawan bekerja di kantor.-Foto: Unsplash.com-

JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Laporan terbaru dari Intelligent, sebuah platform konsultasi pendidikan dan karier, mengungkapkan data mengejutkan terkait karyawan Generasi Z (Gen Z).

Dari survei terhadap perusahaan-perusahaan, diketahui bahwa enam dari 10 perusahaan melaporkan telah memecat lulusan universitas baru yang mereka rekrut.

Fakta ini memicu diskusi mengenai tantangan yang dihadapi Gen Z di dunia kerja modern.

Menurut Radius Setiyawan, seorang dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya sekaligus pengkaji budaya populer, tingginya angka pemecatan ini erat kaitannya dengan karakteristik unik Gen Z.

Generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an ini dikenal memiliki pandangan yang berbeda dari generasi sebelumnya, terutama dalam hal keseimbangan hidup, perkembangan diri, fleksibilitas kerja, dan keinginan untuk memiliki peran yang bermakna.

“Ketika Gen Z bekerja di sebuah perusahaan, mereka harus mematuhi budaya organisasi. Namun, ini sering kali bertentangan dengan ekspresi diri mereka yang kuat,” ujar Radius dalam keterangannya.

Salah satu faktor utama adalah nilai self-love yang digaungkan oleh Gen Z. Sementara perusahaan sering kali menekankan budaya kolektif dan hierarki, perilaku yang terlalu berfokus pada diri sendiri dianggap menyimpang dari norma kerja tradisional.

Hal ini, menurut Radius, menjadi penyebab mengapa sebagian besar pengusaha tidak mencari karakter seperti itu di karyawan mereka.

Pengaruh Media Sosial

Radius juga menyoroti pengaruh media sosial terhadap pola komunikasi Gen Z. Generasi ini lebih akrab dengan platform seperti TikTok yang cenderung menggunakan bahasa santai dibandingkan gaya formal di media berita tradisional.

“Misalnya, Gen Z lebih sering mendengar pemengaruh di media sosial ketimbang menonton saluran berita formal. Hal ini berdampak pada cara mereka berkomunikasi di tempat kerja,” imbuhnya.

Penggunaan bahasa kasual atau informal ini sering kali dianggap tidak profesional dalam lingkungan kerja yang mengedepankan etiket formal, sehingga memicu konflik budaya antara Gen Z dan perusahaan.

Masalah lain yang diidentifikasi adalah ekspektasi Gen Z yang tidak realistis terhadap pekerjaan, gaji, dan lingkungan kerja.

Banyak dari mereka menginginkan fleksibilitas kerja, gaji besar, dan posisi yang sesuai dengan aspirasi pribadi, tetapi kenyataan pasar tenaga kerja sering kali tidak memenuhi harapan tersebut.

Radius menjelaskan bahwa ketidakcocokan antara harapan dan kenyataan ini tidak hanya menyebabkan ketidakpuasan kerja tetapi juga meningkatkan angka pengangguran di kalangan Gen Z.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait