Dua Kuliner Khas Indonesia Masuk Daftar Makanan Terburuk Dunia 2025, Ini Daftarnya

Dua Kuliner Khas Indonesia Masuk Daftar Makanan Terburuk Dunia 2025, Ini Daftarnya

Paniki/ilustrasi-ilustrasi-berbagai sumber

1. Blodpalt (Swedia dan Finlandia)

Blodpalt adalah pangsit berwarna cokelat tua yang dibuat dari tepung gandum atau jelai, dicampur dengan darah hewan seperti rusa kutub. Hidangan ini diisi dengan bawang goreng dan daging babi cincang.

2. Bocadillo de Sardinas (Spanyol)

Sandwich ini menggunakan baguette dengan isian ikan sarden kalengan. Sarden biasanya diawetkan dalam minyak, saus tomat, atau cuka, dan disajikan bersama berbagai bahan tambahan seperti paprika, tomat, dan saus yogurt.

3. Calskrove (Swedia)

Calskrove adalah perpaduan unik antara pizza calzone dengan isian hamburger dan kentang goreng. Hidangan ini berasal dari Skellefteå, Swedia.

4. Angulas a la Cazuela (Spanyol)

Hidangan tradisional dari Basque, Spanyol, ini dibuat dengan angulas (belut muda) yang langka dan mahal. Bahan-bahannya termasuk bawang putih, bubuk cabai, dan minyak zaitun.

5. Jellied Eels (Inggris)

Jellied eels adalah makanan jalanan tradisional Inggris yang populer sejak abad ke-18. Belut lokal direbus dalam bumbu, lalu didinginkan hingga mengeluarkan gelatin alami.

Daftar ini memicu perdebatan di media sosial. Banyak netizen Indonesia mempertanyakan kriteria penilaian Taste Atlas.

Beberapa pihak berargumen bahwa rasa makanan sangat subjektif, terutama jika dipandang dari perspektif budaya yang berbeda.

Meski masuk daftar makanan terburuk, hidangan seperti Tinutuan dan Paniki tetap menjadi kebanggaan kuliner Indonesia yang kaya akan tradisi dan cita rasa lokal. Bagi masyarakat Sulawesi Utara, kedua makanan ini adalah simbol budaya yang tidak ternilai.

Sementara itu, Taste Atlas mengklaim bahwa daftar ini dibuat berdasarkan survei pengguna dan kritikus dari berbagai belahan dunia, yang mungkin belum terbiasa dengan rasa khas hidangan tertentu.

Dengan adanya daftar ini, mungkin sudah saatnya Indonesia memperkenalkan lebih banyak hidangan tradisionalnya kepada dunia, agar ragam kuliner nusantara bisa lebih dikenal dan dipahami secara global.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait