Bedah Teknologi SLS, Monster Antariksa NASA yang Siap Taklukkan Jarak 406.000 Kilometer
Pesawat ulang alik yang membawa 4 Astronout ke bulan dalam misi Artemis II - Dok NASA - --
Radarpena.co.id - Dunia baru saja menyaksikan sejarah baru di sektor kedirgantaraan. NASA resmi meluncurkan misi Artemis II dari landasan legendaris Kennedy Space Center, Florida, Rabu (1/4) malam. Bukan sekadar penerbangan rutin, misi ini menjadi etalase bagi Space Launch System (SLS), roket paling bertenaga yang pernah dirancang manusia untuk menembus batas ruang angkasa dalam (deep space).
Peluncuran ini menandai keberhasilan pertama manusia kembali ke lintasan Bulan setelah lebih dari lima dekade. Dengan membawa empat astronaut dalam kapsul Orion, misi ini menjadi pembuktian bahwa teknologi propulsi modern kini mampu membawa beban berat melampaui orbit rendah Bumi dengan tingkat presisi yang luar biasa.
Monster Mesin: Kekuatan 3.600 Ton Gaya Dorong
Secara teknis, SLS adalah keajaiban engineering. Arsitektur peluncur ini mengandalkan empat mesin utama yang bekerja simultan dengan dua pendorong (booster) bahan bakar padat berukuran raksasa. Kombinasi mekanis ini bukan main-main; SLS mampu menghasilkan gaya dorong maksimal mencapai lebih dari 3.600 ton pada detik-detik awal lepas landas.
Daya dorong masif tersebut merupakan syarat mutlak untuk melontarkan wahana antariksa keluar dari cengkeraman gravitasi Bumi. Struktur roket yang setinggi gedung 32 lantai ini didominasi oleh tangki bahan bakar kriogenik ekstrem yang menyimpan hidrogen cair dan oksigen cair. Bahan bakar inilah yang menjadi asupan utama bagi mesin-mesin berperforma tinggi untuk menjaga akselerasi menuju Bulan.
"Kombinasi ini menghasilkan gaya dorong maksimum lebih dari tiga ribu enam ratus ton gaya pada saat lepas landas, gaya yang diperlukan untuk melepaskan diri dari gravitasi bumi dengan muatan yang signifikan," catat dokumen teknis kendaraan peluncuran tersebut.
Kecanggihan Kapsul Orion dan Modul Servis Eropa
Di balik kemudi misi ini, terdapat empat sosok terpilih: Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen. Mereka berada di dalam kapsul Orion, sebuah wahana transportasi manusia yang dirancang untuk kondisi ekstrem. Salah satu lompatan teknologi paling mencolok dalam misi ini adalah pengujian komunikasi laser berkecepatan tinggi serta sistem navigasi orbital yang jauh lebih canggih dibandingkan era Apollo.
Kenyamanan dan keselamatan kru bergantung sepenuhnya pada European Service Module (ESM), modul vital buatan Airbus di Jerman. ESM bertindak sebagai unit penyokong kehidupan yang menyediakan pasokan oksigen, air, tenaga listrik, hingga kontrol suhu kabin. Menariknya, modul ini dibekali 33 mesin pendorong, termasuk mesin manuver yang pernah digunakan pada pesawat ulang-alik yang sudah pensiun.
Selama misi 10 hari ini, para astronaut tidak akan mendarat di permukaan Bulan. Fokus utamanya adalah menguji life support system dan melakukan manuver kedekatan orbital. Hal ini sangat krusial karena kru akan mengambil alih kontrol Orion secara manual pada fase-fase tertentu untuk memastikan semua sistem berfungsi sempurna sebelum misi pendaratan manusia sesungguhnya di Artemis III.
Misi Terjauh Manusia: Ambisi Menuju Mars
Artemis II bukan sekadar pamer kekuatan di orbit Bulan. Dengan jarak tempuh mencapai 252.000 mil atau sekitar 406.000 km, ini merupakan perjalanan terjauh yang pernah dijalani oleh manusia. NASA memproyeksikan data dari misi ini sebagai fondasi pembangunan pangkalan permanen di Bulan.
Langkah strategis ini juga menjadi jawaban atas persaingan global, mengingat Cina menargetkan pendaratan di Bulan pada 2030. Jika semua sistem teknis pada Artemis II terbukti tangguh, jalan menuju ekspedisi berawak pertama ke Mars pada dekade 2030-an atau 2040-an akan terbuka lebar bagi peradaban manusia. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: