Panduan Salat di Pesawat saat Ibadah Haji, Sah atau Perlu Diulang?
Ilustrasi pesawat-Freepik/ brgfx-
BACA JUGA:Salat Qobliyah Subuh, Keutamaan dan Manfaatnya Sangat Besar
2. Pendapat yang Membolehkan Salat di Pesawat
Mazhab kedua menilai salat tetap sah jika dilakukan di dalam pesawat, selama waktunya telah masuk. Mereka berlandaskan pada prinsip bahwa salat adalah kewajiban yang tidak gugur meskipun dalam kondisi sulit.
Beberapa dalil yang mendukung pandangan ini antara lain:
QS An-Nisa [4]: 103: “Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
Hadis riwayat Bukhari dari Aisyah ra., yang menyebut para sahabat tetap salat meskipun dalam kondisi darurat tanpa wudu.
Mazhab ini dipegang oleh Imam Syafi'i dan Imam Ahmad. Namun, Imam Syafi’i memberikan catatan: salat di kendaraan hanya sebagai bentuk penghormatan waktu (lihurmatil waqti), dan tetap wajib diulang setibanya di darat dengan gerakan sempurna sebagaimana salat biasa.
Jika Harus Tayamum di Pesawat, Ini Caranya
Bagi jemaah yang kesulitan menemukan air untuk wudu, tayamum bisa jadi solusi. Bahkan di pesawat sekalipun, tayamum tetap bisa dilakukan dengan dua cara:
Cara Pertama: Satu Tepukan
- Tempelkan kedua telapak tangan ke dinding pesawat atau sandaran kursi.
- Usapkan ke wajah.
- Lalu, usapkan ke kedua tangan hingga pergelangan secara merata.
Cara Kedua: Dua Tepukan
- Tepuk tangan ke dinding atau permukaan lain di pesawat.
- Usapkan ke wajah.
- Tepuk kembali ke permukaan lain, lalu usapkan tangan ke bagian tangan sendiri hingga siku.
Tata Cara Salat di Dalam Pesawat
Kalau kamu sudah memutuskan untuk tetap salat selama penerbangan, berikut panduan praktisnya:
- Salat di kursi: Duduk tetap di kursi dengan posisi kaki menapak lantai atau dilipat seperti posisi duduk tahiyat.
- Arah kiblat: Gunakan arah terbang pesawat sebagai arah kiblat.
- Gerakan salat: Lakukan gerakan salat semampunya, cukup dengan isyarat (ima'ah) jika tak memungkinkan berdiri atau sujud sempurna.
Ibadah haji bukan hanya soal sampai di Mekah, tapi juga tentang menjaga ketaatan di setiap langkah perjalanan. Salat lima waktu tetap menjadi kewajiban, dan para ulama telah memberikan panduan sesuai kemampuan dan kondisi.
Mau mengikuti pendapat Imam Syafi’i atau Hanafi? Itu kembali ke keyakinan dan mazhab masing-masing. Yang penting, semangat beribadah tetap menyala, meski sedang melayang di angkasa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: