Setia Untung Arimuladi Ungkap Peran Keluarga dalam Membentuk Integritas Jaksa
Mantan Wakil Jaksa Agung Setia Untung Arimuladi--Wikipedia
radarpena.co.id - Pembahasan mengenai integritas aparat penegak hukum selama ini sering berfokus pada aspek disiplin, pengawasan internal, serta aturan kelembagaan.
Namun mantan Wakil Jaksa Agung, Setia Untung Arimuladi, menawarkan perspektif berbeda: integritas seorang jaksa sebenarnya berakar dari pendidikan keluarga sejak dini.
Gagasan tersebut ia tuangkan dalam buku berjudul Peran Keluarga dalam Pengawasan dan Pembentukan Integritas Jaksa.
Buku setebal 156 halaman ini menyoroti bagaimana nilai-nilai moral yang diajarkan dalam keluarga memiliki pengaruh besar terhadap karakter seorang jaksa ketika menjalankan tugas penegakan hukum.
BACA JUGA:SPBU Antre Panjang? Ini Penjelasan Resmi Pertamina Soal Stok BBM Jelang Lebaran 2026
Integritas Jaksa Tidak Terbentuk Secara Instan
Dalam buku tersebut, Setia Untung menegaskan bahwa integritas tidak muncul secara tiba-tiba ketika seseorang memasuki dunia profesional sebagai aparat penegak hukum. Sebaliknya, karakter tersebut mulai dibentuk sejak masa kanak-kanak melalui pendidikan moral di lingkungan keluarga.
“Integritas adalah nilai yang tumbuh sejak dini dan dibentuk melalui proses panjang dalam keluarga,” tulis Setia Untung dalam pengantar bukunya.
Menurutnya, pendekatan yang hanya mengandalkan sistem pengawasan struktural seperti aturan disiplin dan regulasi lembaga belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan.
BACA JUGA:Tak Punya Izin, Lapangan Padel di Jagakarsa Disegel Pemkot Jaksel
Keluarga Jadi Fondasi Nilai Moral
Sebagai Wakil Ketua Umum Keluarga Besar Purna Adhyaksa, Setia Untung menilai keluarga merupakan ruang pertama bagi seseorang untuk belajar tentang nilai-nilai dasar seperti: kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan keteladanan.
Nilai-nilai tersebut kemudian memengaruhi sikap dan keputusan seseorang ketika menjalankan profesinya sebagai jaksa.
Konsep Preventive Cognitive Family Mode
Dalam bukunya, Setia Untung juga memperkenalkan konsep Preventive Cognitive Family Mode. Pendekatan ini menggabungkan teori kognitif sosial, behaviorisme, dan sistem keluarga untuk menjelaskan bagaimana pola asuh serta interaksi keluarga dapat membentuk karakter integritas sejak dini.
BACA JUGA:Libur Lebaran & Nyepi 2026 ke Bali? Cek Daftar Wilayah Rawan Konflik Hasil Pemetaan BIN
Melalui konsep tersebut, keluarga tidak lagi dipandang sebagai wilayah yang terpisah dari dunia profesional. Sebaliknya, keluarga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan pelanggaran integritas di kalangan aparat penegak hukum.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: