Ketahanan Energi 2026: DEN Sebut PLTN dan Avtur Minyak Jelantah Jadi Senjata Baru RI

Ketahanan Energi 2026: DEN Sebut PLTN dan Avtur Minyak Jelantah Jadi Senjata Baru RI

Sekjen DEN Dadan Kusdiana - Sigit Nugroho - --

Radarpena.co.id - Pemerintah Indonesia serius memperkuat kedaulatan energi di tengah memanasnya tensi geopolitik global. Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Dadan Kusdiana, mengungkapkan bahwa tahun 2025 menjadi titik awal perjalanan panjang 10 tahun ke depan untuk mengamankan pasokan energi bersih nasional melalui berbagai peta jalan strategis.

Dalam forum "Kaleidoskop Energi 2025 dan Outlook 2026" di SCBD, Jakarta (13/1/2026), Dadan menekankan bahwa transisi energi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak. Pemerintah telah menyiapkan inisiasi besar mulai dari pengembangan hidrogen, amonia, hingga pemanfaatan nuklir untuk menjaga keseimbangan antara ketahanan energi dan target dekarbonisasi.

PLTN Bukan Mulai dari Nol, Pemerintah Siapkan NEPIO

Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan adalah rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Dadan menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya sudah memiliki modal kuat berupa studi tapak dan lokasi yang telah dilakukan selama belasan tahun oleh BATAN (kini di bawah BRIN).

Dadan menggarisbawahi komitmen pemerintah dalam kutipannya:

"Untuk pembangunan PLTN, sudah banyak studi, sudah cukup lama kita melakukan hal tersebut... Jadi kita bukan mulai dari nol ya. Di sisi regulasinya kita sudah ada. Tapi betul bahwa ini harus disiapkan dengan sangat teliti. Makanya pemerintah sekarang sedang menyiapkan kelembagaannya, itu yang disebut dengan NEPIO."

Lembaga NEPIO (Nuclear Energy Program Implementation Organization) nantinya akan melibatkan berbagai unsur, termasuk pakar sosial dan lingkungan. Tujuannya jelas: memastikan pembangunan PLTN berjalan aman dan mendapat dukungan publik tanpa mengabaikan aspek keselamatan geologi dan kebutuhan beban listrik (demand) saat ini.

Minyak Jelantah Jadi Avtur: Peluang Emas Ekspor

Selain nuklir, sektor bioenergi juga menunjukkan progres signifikan. Dadan menyoroti potensi besar minyak jelantah (used cooking oil) sebagai bahan baku bio-avtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Menariknya, pasar internasional justru memberikan nilai lebih tinggi pada bahan baku limbah ini karena dianggap lebih ramah lingkungan.

Meskipun proses pengolahannya hampir sama dengan minyak nabati murni (virgin oil), minyak jelantah memiliki daya saing kuat di pasar global. "Ini juga sesuatu yang harus kita sama-sama dorong bahwa minyak jelantah dan juga minyak nabati yang asli bisa disebut berkelanjutan sebetulnya kalau kita bisa mengembangkan produksi sawit yang berkelanjutan," jelas Dadan.

Peta Jalan 10 Tahun: Dari B50 hingga Hidrogen

Memasuki periode 2025-2034, Indonesia akan mengikuti Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang lebih hijau. Target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) juga terus mengalami penyesuaian untuk jangka panjang hingga 2050.

Dadan menyebutkan bahwa implementasi mandatori seperti B50 tetap berjalan beriringan dengan pengurangan emisi pada pembangkit fosil. Strategi ini memastikan bahwa saat kita mengejar target nol emisi (net zero emission), stabilitas pasokan energi untuk masyarakat tetap terjaga dan tidak terganggu oleh dinamika ekonomi internasional. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: