Kurs Rupiah Melemah Tembus Rp16.600 per Dolar AS, Ini Penjelasan Analis

Kurs Rupiah Melemah Tembus Rp16.600 per Dolar AS, Ini Penjelasan Analis

Ilustrasi rupiah-Pixabay-

JAKARTA, RADARPENA.CO.ID -  Dalam kurun waktu beberapa hari terakhir, kondisi kurs Rupiah terpantau tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Terkini, asumsi nilai tukar Rupiah ke Dolar AS sudah tembus ke level setara dengan 16.600-an /USD.

Sementara itu di sisi lain, pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang lainnya terlihat bervariasi.

Menanggapi kondisi tersebut, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Arjwani menilai bahwa kondisi ini sendiri juga dipicu oleh kehawatiran terkait defisit APBN dan stabilitas posisi fiskal akibat berbagai stimulus baru yang digelontorkan Pemerintah, contohnya seperti Paket Ekonomi 8+4+5.

BACA JUGA:Jadwal Timnas Indonesia va Arab Saudi di Ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026

“Paket 8+4+5 memicu kekhawatiran di pasar sehingga investor asing net sell deras terutama dari pasar SBN domestik,” jelas Arjun ketika dihubungi oleh Disway, pada Rabu 24 September 2025.

Lebih lanjut, Arjun turut menambahkan bahwa faktor lainnya yang menjadi alasan dibalik tertekannya nilai Rupiah adalah pemangkasan BI-Rate yang secara tak terduga dan beruntun.

Menurutnya, faktor ketidakpastian global menyempit spread antara BI-Rate dan FFR, sehingga membuat aset domestik menekan Rupiah juga serta penurunan yield SBN.

“Obligasi lain domestik yang sudah turun signifikan membuat riil yield (imbal hasil riil) menjadi tidak se-menarik sebelum hingga investor asing terutama keluar dari aset domestik dan ini juga menekan Kinerja Nilai Tukar Rupiah,” pungkas Arjun.

BACA JUGA:FIFA Resmi Restui Erick Thohir Rangkap Jabatan Menpora dan Ketum PSSI: Beliau Multitalenta

Hal serupa juga turut dikatakan oleh Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu.

Menurutnya, ketidakpastian perekonomian global juga berperan dalam pergerakan dinamis nilai tukar Rupiah.

“Ini kan dinamikanya sangat berfluktuasi, kurs itu sangat terdampak oleh kebijakan global,” jelas Febrio.

Sementara itu, tingkat imbal hasil obligasi Indonesia belakangan ini juga turut menurun akibat kebijakan pelonggaran likuiditas. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: