Nilai Tukar Rupiah Loyo hingga Rp16.749 per Dolar AS: Ini Penyebab dan Dampaknya

Nilai Tukar Rupiah Loyo hingga Rp16.749 per Dolar AS: Ini Penyebab dan Dampaknya

Ilustrasi dolar as-Istimewa-

JAKARTA, RADARPENA.CO.ID -  Melemahnya nilai tukar Rupiah kepada Dolar Amerika Serikat (AS) kini menjadi semakin mengkhawatirkan. Pasalnya, kini nilai tukar Rupiah justru kembali anjlok hingga ke level Rp 16.749 per dolar AS.

Bahkan, pelemahan Rupiah ini juga jauh lebih buruk apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan April 2025 lalu. 

Terkini, sejumlah Pakar Ekonomi serta Analis menilai bahwa sejumlah kebijakan Pemerintah juga turut menjadi faktor penyebab dibalik anjloknya nilai tukar Rupiah ini sendiri.

Salah satunya adalah kenaikan suku bunga deposito valuta asing (valas) menjadi 4 persen oleh bank-bank milik negara (Himbara) belum lama ini.

BACA JUGA:Spesifikasi Xiaomi 15T dan 15T Pro, Smartphone Flagship Tercanggih 2025

Namun menurut Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, Putrama Wahju Setyawan, keputusan kenaikan dana valas ini dilakukan untuk memberikan nilai tambah tersendiri bagi nasabah untuk menempatkan dana valas-nya di dalam negeri, terutama bagi para nasabah yang selama ini menempatkan dana valasnya di luar negeri.

"BNI membuka peluang ini untuk nasabah yang selama ini menempatkan dana valas-nya di luar negeri, untuk ikut menanamkan modal investasi di Tanah Air," ucap Putrama kepada Disway, pada Jumat 26 September 2025.

Sementara itu dalam menanggapi tudingan kenaikan dana valas sebagai alasan dibalik anjloknya nilai tukar Rupiah, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu menyatakan bahwa hal tersebut masih memerlukan informasi lebih lanjut.

"Nanti saya lihat dulu ya," ucap Febrio.

Kondisi Perekonomian Masih Tidak Stabil

Di sisi lain, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menjelaskan bahwa kondisi ini sendiri sebenarnya wajar terjadi mengingat konndisi perekonomian global yang masih tidak stabil.

Terlebih lagi, dirinya menambahkan, terkini muncul kekhawatiran akan risiko kenaikan tarif baru terhadap industri farmasi global dari AS.

BACA JUGA:Polri Pastikan Usut Kasus Keracunan MBG di Seluruh Indonesia

"Iya itu wajar alasan yang kemarin dikasih tau masih berlaku dari sisi domestik. Apalagi ada kenaikan risiko dari global ada tarif baru terhadap industri farmasi global dari AS dan kenaikan tensi dengan Rusia, yang Membuat dolar AS menguat kemarin," jelas Arjun ketika dihubungi oleh Disway.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait