Pertumbuhan Ekonomi Diklaim 5,12 Persen, Ekonom: Sangat Janggal
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi--
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID – Pemerintah mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,12 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal II tahun 2025.
Klaim ini disampaikan langsung oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan disebut sebagai sinyal kekuatan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Namun, di balik optimisme itu, sejumlah ekonom justru menyoroti kejanggalan data yang dirilis. Bahkan, tak sedikit yang menyebutnya “mustahil”.
BACA JUGA:Heboh! Penemuan Kepala Kucing di Pasar Sepanjang Sidoarjo, Ini Faktanya
Hanya Kalah dari China
Dalam konferensi pers di Gedung Ali Wardhana, Jakarta, Selasa (5/8/2025), Airlangga menyebut Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan G20 dan ASEAN.
“Alhamdulillah kita kembali ke jalur lima persen. Indonesia hanya di bawah China yang tumbuh 5,2 persen,” ujar Airlangga.
Pertumbuhan ini, kata dia, ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan lonjakan aktivitas digital:
- Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,97 persen.
- Investasi (PMTB) melonjak 6,99 persen.
- Transaksi digital, termasuk uang elektronik dan marketplace, naik masing-masing 6,26 persen dan 7,5 persen.
- Pariwisata domestik pun turut menggeliat dengan kenaikan perjalanan wisata hingga 22,32 persen saat libur nasional.
BACA JUGA:Viral! Cekcok Plt Sekda Pati dengan Warga Soal Aksi Penolakan Kenaikan PBB, Ini Sosoknya
Data Tidak Masuk Akal
Tak semua pihak sepakat. Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengaku heran dengan angka yang diumumkan pemerintah dan BPS.
Ia bahkan menyebut pertumbuhan ekonomi 5,12 persen sebagai sesuatu yang janggal dan tidak mencerminkan kondisi riil masyarakat.
“Saya tidak percaya data tersebut mewakili realitas ekonomi di lapangan. BPS harus buka-bukaan soal metodologinya,” tegas Nailul.
Ia merinci tiga alasan utama:
- Pertumbuhan lebih tinggi dari kuartal Ramadan-Lebaran yang justru biasanya menjadi puncak konsumsi nasional.
- Industri pengolahan tumbuh 5,68 persen, padahal Purchasing Managers’ Index (PMI) terus berada di bawah 50 dan PHK meningkat 32 persen secara tahunan.
- Konsumsi rumah tangga disebut tumbuh, tapi indeks keyakinan konsumen malah turun dari 121,1 (Maret) menjadi 117,8 (Juni).
BACA JUGA:Dibuka Lagi, Begini Cara War Tiket Upacara HUT RI di Istana 17 Agustus 2025
Manipulasi atau Inkompetensi
Nada kritik juga disampaikan Achmad Nur Hidayat, ekonom dan pakar kebijakan publik dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta.
Ia mempertanyakan kenapa angka pertumbuhan versi BPS melampaui batas atas semua proyeksi resmi:
- Bank Dunia: 4,7 persen (Global Economic Prospects Juni 2025)
- Bank Indonesia: 4,7–5,1 persen
- Kementerian Keuangan (APBN): 5,0 persen
“Saat semua lembaga menyuarakan pelemahan ekonomi, BPS malah bilang pertumbuhan di atas 5 persen. Ini menimbulkan kecurigaan besar,” ujarnya kepada Disway grup radarpena.co.id, Rabu (6/8/2025).
Achmad bahkan menyebut kemungkinan adanya manipulasi politik atau inkompetensi teknis dalam proses perhitungan.
“Kalau bukan salah hitung, ya mungkin ada intervensi. Harus ada audit independen agar publik tahu kebenarannya,” tegasnya.
BACA JUGA:Tafsir Mimpi Datang ke Dukun, Lengkap dengan Penjelasannya
Ia menekankan, jika terbukti ada pelanggaran, maka reformasi sistem statistik nasional dan pertanggungjawaban politik harus segera dilakukan.(bianca)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: