Imbas Perkembangan AI, DBS Group Bakal PHK Massal 4.000 Karyawan Kontrak
DBS Group Bakal PHK 4.000 Karyawan Kontrak -Wikipedia-
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Kabar mengejutkan datang dari DBS Group (DBSM.SI), salah satu perusahaan jasa keuangan terkemuka di Asia.
Perusahaan ini mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 4.000 karyawan kontrak dan pekerja temporer dalam tiga bulan ke depan.
Pengumuman ini disampaikan langsung oleh CEO DBS, Piyush Gupta, pada Senin, 27 Febuari 2025.
“Selama 15 tahun saya menjadi CEO, untuk pertama kalinya, saya kesulitan menciptakan lapangan kerja. Sejauh ini, saya selalu punya pandangan sendiri mengenai lapangan kerja apa yang bisa saya ciptakan. Kali ini saya kesulitan untuk mengatakan bagaimana saya akan memanfaatkan orang untuk menciptakan lapangan kerja,” ujar Piyush Gubta dikutip Reuters, 27 Februari 2025.
Gupta menjelaskan bahwa keputusan ini diambil seiring dengan transformasi digital yang sedang dilakukan oleh perusahaan. Meski mengurangi jumlah karyawan kontrak, DBS akan menambah 1.000 posisi baru yang akan diisi oleh Artificial Intelligence (AI).
“Kami memperkirakan pengurangan tenaga kerja akan terjadi karena pengurangan alamiah, karena peran sementara dan kontrak ini akan selesai dalam beberapa tahun ke depan,” tambahnya.a
BACA JUGA:Rans Nusantara Hebat BSD Umumkan Bakal Ditutup per 28 Februari 2025, Netizen: UMKM Tapi Harga Mall!
BACA JUGA:Tiket Gratis Ancol Selama Ramadan 2025, Begini Cara Mendapatkannya!
Namun, Gupta menegaskan bahwa PHK ini tidak akan memengaruhi karyawan tetap.
Juru Bicara DBS juga menyatakan bahwa pengurangan tenaga kerja kontrak merupakan proses alami, terutama mengingat masa habis kontrak karyawan dan pekerja lepas.
Gupta sendiri dijadwalkan bakal mengakhiri masa jabatannya sebagai CEO DBS pada 28 Maret 2025 mendatang.
Jabatannya akan digantikan oleh Tan Su Shan yang bakal memimpin salah satu bank terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Keputusan DBS ini mencerminkan tren global di mana perusahaan-perusahaan mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi. Hasil survei World Economic Forum (WEF) bertajuk "Survei Masa Depan Pasar Kerja" menyebutkan bahwa 41% perusahaan telah mempertimbangkan pengurangan tenaga kerja akibat kemajuan AI.
Sementara itu, 77% pengusaha memilih untuk meningkatkan keterampilan karyawan agar dapat bekerja sama dengan AI.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: