Muktamar NU 2026 Disorot, Muncul Seruan ABUKTOR: Asal Bukan Koruptor Jadi Syarat Mutlak Pemimpin PBNU

Muktamar NU 2026 Disorot, Muncul Seruan ABUKTOR: Asal Bukan Koruptor Jadi Syarat Mutlak Pemimpin PBNU

Seruan ABUKTOR mengemuka jelang Muktamar NU 2026. Kepemimpinan PBNU didorong bersih dari korupsi dan politik uang demi pulihkan kepercayaan publik--

Menurutnya, jika praktik clientelism dibiarkan, legitimasi Muktamar bisa terkikis dan arah organisasi berisiko terseret kepentingan jangka pendek.

Karena itu, ABUKTOR tidak hanya berarti menolak figur yang tercemar kasus korupsi, tetapi juga menolak seluruh proses politik yang dibangun lewat transaksi.

Muktamar NU 2026 Dinilai Jadi Titik Balik

Rangkaian Munas dan Konbes April 2026 hingga Muktamar mendatang disebut menjadi momentum menentukan apakah NU membuka lembaran baru atau sekadar mengulang problem lama dalam format berbeda.

Khalilur menyebut Muktamar kali ini harus menjadi titik balik untuk menegaskan kembali nilai dasar organisasi dan memulihkan legitimasi moral NU.

“Sebelum bicara siapa yang memimpin, NU harus memastikan satu hal: kepemimpinan itu bersih,” katanya.

Ia mengingatkan, bila momentum ini tidak dimanfaatkan, NU berisiko kehilangan basis moral yang selama ini menjadi kekuatan utamanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kepercayaan Publik Jadi Taruhan

Di tengah dinamika perebutan pengaruh menuju Muktamar, isu integritas kini dinilai menjadi variabel yang tidak bisa dihindari.

Seruan ABUKTOR pun mulai dibaca bukan sekadar slogan, tetapi tekanan moral agar Muktamar NU 2026 menghasilkan kepemimpinan yang bersih, kredibel, dan mampu memulihkan kepercayaan umat.

Dengan tensi politik organisasi yang mulai menghangat, wacana ini berpotensi menjadi salah satu isu sentral yang mewarnai kontestasi menuju Muktamar.

Satu pesan yang kini menguat: siapa pun boleh maju memimpin PBNU, tetapi syaratnya satu—asal bukan koruptor. (*)

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: