Bahlil: Aktivitas Tambang Raja Ampat bukan di Pulau Piaynemo
Aktivitas tambang nikel di Raja Ampat--
BACA JUGA:Desak Hentikan Tambang Nikel di Raja Ampat! Komisi VII DPR: Tak Ada Kompomi
Sebelumnya, Bahlil memutuskan untuk menyetop sementara aktivitas pertambangan nikel oleh perusahaan tersebut.
Pembekuan Izin Usaha Pertambangan (IUP) perusahaan tersebut berlaku sejak Kamis, 5 Juni 2025.
Langkah ini diambil usai penolakan kegiatan pertambangan nikel di Raja Ampat oleh aktivis lingkungan dan aliansi masyarakat sipil karena mengancam ekosistem.
“Untuk sementara, kami hentikan operasinya sampai dengan verifikasi lapangan. Kami akan cek,” kata Bahlil
BACA JUGA:Polemik Tambang Nikel di Raja Ampat, Apa Respon Pemerintah?
PT Gag Nikel merupakan anak perusahaan PT Antam Tbk, salah satu badan usaha milik negara (BUMN).
Bahlil mengatakan, IUP produksi perusahaan tersebut untuk menambang nikel di Raja Ampat terbit pada 2017 dan mulai beroperasi setahun setelahnya. “Sebelum beroperasi kan ada Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan). Amdal ini sudah ada,” kata Ketua Umum Partai Golkar itu.
Awalnya, perusahaan ini dimiliki oleh Asia Pacific Nickel Pty. Ltd. Dengan penguasaan saham 75 persen dan PT Aneka Tambang (ANTAM) sebesar 25 persen. Namun sejak 2008, PT ANTAM mengakuisisi seluruh saham APN Pty. Ltd. dan kini menguasai penuh PT GAG Nikel.
BACA JUGA:Seskab Pastikan Pemerintah Bakal Selesaikan Masalah Pertambangan Nikel di Raja Ampat
Sebelumnya, penolakan terhadap aktivitas pertambangan nikel di Raja Ampat disuarakan Greenpeace Indonesia dalam acara Indonesia Critical Minerals Conference & Expo di Hotel Pullman, Selasa, 3 Juni 2025.
Kepala Kampanye Hutan Greenpeace Global untuk Indonesia Kiki Taufik mengatakan wilayah Raja Ampat akan rusak bila aktivitas tambang terus dibiarkan. Ia berujar, dampak merusak akibat industri nikel sudah terjadi di sejumlah daerah seperti Halmahera, Wawonii, dan Kabaena. Kini, aktivitas serupa mulai menjalar ke Raja Ampat.
"Saat ini sudah ada lima pulau yang mulai dieksploitasi. Padahal wilayah ini adalah kawasan geopark global dan destinasi wisata bawah laut terpopuler. Sekitar 75 persen terumbu karang terbaik dunia berada di Raja Ampat, dan sekarang mulai dirusak," ujarnya.
BACA JUGA:Terungkap! Ternyata Izin Tambang Nikel di Raja Ampat Sudah Terbit Sejak 2017
Penelusuran Greenpeace tahun lalu menemukan adanya aktivitas tambang di Pulau Gag, Pulau Kawe, dan Pulau Manuran.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: