Kehidupan Gen Z di Medsos Estetik Realita Terbalik
Kehidupan gen z--
Radarpena.co.id, Jakarta - Di era digital, kita sering melihat kehidupan orang lain di media sosial yang tampak begitu sempurna dan aesthetic. Feed Instagram penuh dengan foto liburan ke tempat eksotis, outfit yang selalu on point, kafe dengan latte art cantik, dan gaya hidup minimalis yang terlihat effortless.
Tapi, pernahkah kita bertanya, apakah semua ini benar-benar realitas atau hanya ilusi yang diciptakan?
BACA JUGA:List Film Horor Netflix Terbaru yang Seru Ditonton Saat Libur Lebaran di Rumah
Satu hal yang perlu kita sadari adalah bahwa media sosial bukanlah cerminan penuh dari kehidupan seseorang. Sebagian besar orang hanya membagikan momen terbaik mereka, foto yang sudah melalui puluhan take, diedit agar terlihat lebih menarik, dan dipilih dengan sangat hati-hati. Di balik satu postingan yang estetik, mungkin ada berjam-jam usaha, pencahayaan yang diatur sedemikian rupa, atau bahkan editing profesional.
Tanpa sadar, kita sering merasa tertekan untuk ikut-ikutan memiliki feed yang sempurna. Standar estetika yang terus berkembang menciptakan ekspektasi yang tidak realistis. Akibatnya:
- Banyak orang merasa insecure karena membandingkan hidupnya dengan kehidupan 'sempurna' di media sosial.
- Muncul budaya konsumerisme, di mana kita merasa harus membeli barang tertentu demi memenuhi standar aesthetic.
- Kesehatan mental bisa terganggu karena merasa kehidupan kita tidak seindah yang ditampilkan orang lain.
BACA JUGA:5 Alasan Gen Z Kerap Terjebak Lifestyle yang Tidak Sesuai Kemampuan
Realitanya, kehidupan setiap orang pasti punya sisi naik dan turun. Influencer yang selalu terlihat bahagia juga punya masalah pribadi yang tidak mereka bagikan. Orang yang sering traveling ke luar negeri mungkin harus bekerja keras dan berhemat dalam aspek lain. Hal-hal ini jarang diperlihatkan karena media sosial lebih fokus pada highlight, bukan perjuangan di baliknya.
BACA JUGA:Mix and Match Ala Gen Z: Ekspresikan Diri dengan Gaya Bebas yang Tetap On Point
Agar tidak terjebak dalam ilusi media sosial, kita bisa mulai dengan:
- Menyadari bahwa tidak semua yang terlihat di media sosial itu nyata. Jangan membandingkan kehidupan asli kita dengan highlight orang lain.
- Menggunakan media sosial secara sehat. Kurangi waktu scrolling tanpa tujuan dan lebih fokus pada kehidupan nyata.
- Menghargai momen apa adanya. Tidak semua hal perlu difoto atau diunggah. Menikmati momen tanpa tekanan untuk membagikannya bisa membuat kita lebih bahagia.
Mengikuti akun yang memberi dampak positif. Unfollow akun yang membuat kita merasa insecure dan pilih konten yang lebih inspiratif serta realistis. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: