Pak Ogah, Profesi yang Berjasa di Indonesia Namun Bakal Punah

Pak Ogah, Profesi yang Berjasa di Indonesia Namun Bakal Punah

Ilustrasi pak ogah --

Radarpena.co.id,Jakarta - Ciri khas kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia tengah menghadapi kepunahan.

Selama beberapa dekade, sebagian dari 280 juta penduduk negara ini telah meraup untung dari kemacetan lalu lintas yang terkenal itu. Pria dan wanita berdiri di tengah jalan kota dan membantu mobil berbelok, dengan imbalan beberapa sen yang dibagikan lewat jendela.

 

Namun, hari-hari bagi pengatur lalu lintas tidak resmi ini sudah dihitung.

Orang Indonesia semakin meninggalkan pembayaran tunai dan lebih memilih pembayaran melalui ponsel pintar, sehingga tidak banyak uang receh bagi petugas lalu lintas seperti Azis Riyansyah. Ia mengatakan bahwa beberapa tahun lalu, ia memperoleh penghasilan setara dengan USD16 hingga USD18 per hari. Sekarang penghasilannya menjadi USD12 per hari dan terus menurun.

BACA JUGA:659 Pengamen, Pak Ogah dan Pengemis Jalanan Diangkut Satpol PP Jakarta

“Tidak ada lagi uang kecil untuk orang kecil,” katanya.

 

Pekerja lepas yang ada di mana-mana ini disebut pak ogah, diambil dari nama karakter TV anak-anak yang melakukan pekerjaan serabutan demi uang. Tidak ada penghitungan resmi. Ditoleransi tetapi tidak disukai oleh pemerintah, mereka mencoba bertahan hidup di negara yang melarang mengemis.

Seiring dengan meningkatnya kemakmuran Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia, dalam beberapa dekade terakhir, orang-orang membeli lebih banyak mobil. Namun, jaringan jalan raya tidak mengimbanginya. Kemacetan adalah salah satu alasan mengapa pemerintah memindahkan ibu kotanya dari Jakarta ke Nusantara, kota baru di pulau lain.

BACA JUGA:Intip Isi Surat Cinta Kim Soo Hyun pada Kim Sae Ron, Agensi Membantah

Kemacetan di Jakarta, kota berpenduduk 11 juta orang, selalu menempati peringkat teratas sebagai kemacetan terburuk di dunia. Pada tahun 2023, pengemudi kehilangan 117 jam pada jam sibuk, menurut Indeks Lalu Lintas TomTom, dibandingkan dengan 112 jam di New York City dan 89 jam di Los Angeles.

Sementara para pejabat memperkirakan kemacetan menyebabkan kerugian bagi ekonomi daerah Jakarta sebesar USD5 miliar per tahun, satu segmen masyarakat yang berdaya upaya telah melihat sebuah peluang.

BACA JUGA:Ifan Seventeen Resmi Jadi Dirut PT Produksi Film Negara, Begini Respons dari Sejumlah Aktor

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: