Menelisik Makna dan Tradisi Rebo Wekasan: Antara Keyakinan, Ritual, dan Kearifan Lokal

Menelisik Makna dan Tradisi Rebo Wekasan: Antara Keyakinan, Ritual, dan Kearifan Lokal

Rebo Wekasan Sebuah tradisi yang diperingati setiap tahun di hari Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.--Super Radio

JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Rebo Wekasan, dua kata ini mungkin sudah tidak asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. 

Sebuah tradisi yang diperingati setiap tahun di hari Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah. 

Pada tahun 2025 ini, momen sakral tersebut jatuh pada 20 Agustus 2025. 

Namun, tahukah Anda, apa sebenarnya makna di balik Rebo Wekasan dan mengapa tradisi ini begitu melekat di berbagai daerah, mulai dari Jawa, Madura, hingga Aceh?

BACA JUGA:Bulan pada Kalender Islam dan Sejarahnya

BACA JUGA: Link Download Kalender Islam 2025 PDF Lengkap dengan Hari Pasaran Jawa dan Hari Besar, GRATIS

Rebo Wekasan, atau juga dikenal sebagai Rabu Pungkasan, adalah sebuah perayaan yang kental dengan perpaduan antara ajaran Islam dan kearifan lokal. 

Secara etimologi, namanya sangat sederhana, "Rebo" berarti Rabu dan "Wekasan" berarti terakhir. 

Nama ini merujuk pada waktu pelaksanaannya, yakni Rabu terakhir di bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Islam.

Sejarah Rebo Wekasan, Mitos dan Realita

Tradisi Rebo Wekasan bukanlah tanpa alasan, konon keyakinan ini berakar dari sebuah kitab klasik bernama Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur yang ditulis oleh Syekh Abdul Hamid Quds. 

Dalam kitab tersebut, dikisahkan bahwa pada hari itu akan turun 320 ribu bencana atau bala' ke bumi. 

Keyakinan inilah yang menjadi dasar bagi masyarakat untuk melakukan berbagai ritual dan amalan agar terhindar dari musibah. Namun, tidak semua ulama sepakat dengan pandangan ini. 

Sejumlah ahli tafsir dan ulama modern berpendapat bahwa keyakinan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dari hadis-hadis sahih. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: