Kisah Nyata! Tertantang Menyebut ‘Sialang’ Setelah Magrib dan Menyesal Seumur Hidup

Kisah Nyata! Tertantang Menyebut ‘Sialang’ Setelah Magrib dan Menyesal Seumur Hidup

"Jangan pernah sebut nama itu setelah matahari tenggelam, apalagi sambil tertawa. Karena dia bisa datang kapan saja, dari arah yang tak kau sangka." pesan terakhir Pak Arman.--

JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Jangan pernah sebut nama itu setelah matahari tenggelam, apalagi sambil tertawa. Karena dia bisa datang kapan saja, dari arah yang tak kau sangka.

Itulah pesan terakhir dari Pak Arman, seorang mantan kepala dusun yang memilih meninggalkan kampung halamannya di kaki Bukit Sialang, Sumatera. 

Ia bukan lari dari utang atau urusan keluarga, tetapi harus pergi meninggalkan desa dari sesuatu yang tak kasatmata.

Begini ceritanya.

BACA JUGA:Kisah Horor Nyata Ritual Manten Tebu, Rahasia Makmur Desa Pabrik Gula

BACA JUGA:Jeritan Kamar Jenazah: Kisah Horor Tragedi Kanjuruhan Malang

Awalnya Hanya Sebuah Cerita Mistis

Desa Sialang dikenal sebagai kawasan yang indah, dengan hutan rimbun, kabut pagi yang tebal, dan suasana sejuk yang menenangkan. 

Tapi di balik ketenangan itu, tersembunyi larangan turun-temurun, yaitu jangan menyebut nama "Sialang" setelah Maghrib.

Bagi penduduk asli, nama itu hanya boleh diucapkan siang hari, karena mereka meyakini, begitu nama itu disebut setelah senja, gerbang yang menghubungkan dunia manusia dan arwah penjaga hutan akan terbuka.

Namun sayangnya generasi muda tak semuanya percaya akan larangan tersebut. Mereka menganggap hanya sebuah mitos.

Malam Tantangan yang Mengubah Segalanya

Kisah ini datang dari seseorang bernama Andra, seorang mahasiswa dari Jakarta yang tengah melakukan penelitian budaya di kawasan tersebut pada tahun 2023. 

Ia tinggal di rumah warga selama dua minggu dan menganggap larangan itu cuma takhayul kuno.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait