Awas Bahaya! Jangan Nekat Olahraga Saat Puasa Kalau Masuk 3 Grup Ini, Nyawa Taruhannya?
Ilustrasi olahraga saat berpuasa - Dok. ANTARA - --
Radarpena.co.id - Bulan suci Ramadan 2026 segera tiba, dan semangat untuk tetap sehat biasanya meledak-ledak. Banyak dari kita yang tetap ingin menjaga bentuk tubuh atau membakar lemak membandel meski sedang menahan lapar dan haus. Namun, tunggu dulu! Jangan sampai ambisi hidup sehatmu malah berubah jadi petaka karena nekat melakukan aktivitas fisik yang berlebihan.
Ternyata, tidak semua orang boleh "hajar bleh" berolahraga saat perut kosong. Ada aturan main yang sangat ketat, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi tubuh tertentu. Pakar kesehatan baru saja mengeluarkan peringatan keras bagi kelompok masyarakat tertentu agar tidak memaksakan diri. Jika kamu masuk dalam daftar ini, sebaiknya simak baik-baik tips olahraga saat berpuasa agar ibadahmu tetap lancar tanpa harus masuk rumah sakit.
Risiko Fatal! Ini Deretan Orang yang Dilarang Memaksakan Olahraga
Olahraga memang bukan aktivitas yang haram saat Ramadan, tapi memaksakan diri adalah kesalahan besar. Dokter spesialis kedokteran olahraga lulusan Universitas Indonesia, dr. Risky Dwi Rahayu, M.Gizi, Sp.K.O, mengungkapkan bahwa ada kelompok prioritas yang harus sangat berhati-hati. Mereka tidak perlu mewajibkan diri untuk melakukan latihan fisik berat jika kondisinya tidak memungkinkan.
Siapa saja mereka? Daftar utamanya meliputi ibu hamil, ibu menyusui, dan penderita penyakit penyerta atau komorbid. Ketiga kelompok ini berada dalam zona merah jika tidak mengatur asupan gizi dan intensitas aktivitas fisik secara cermat. Ingat, tubuhmu sedang bekerja ekstra keras saat berpuasa, dan menambah beban olahraga berat bisa mengganggu keseimbangan metabolisme.
"Olahraga itu bukan salah satu aktivitas yang harus dihindari pada waktu berpuasa, tapi, memang kalau kita memaksakan diri itu tidak bagus," tegas dr. Risky dalam sebuah diskusi daring di Jakarta, Rabu (18/02).
Ibu Hamil dan Menyusui: Fokus pada Kebiasaan, Bukan Target Ekstrem
Bagi ibu hamil dan menyusui, urusan gizi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. dr. Risky menyarankan agar kelompok ini tidak memasang target olahraga yang terlalu ekstrem, apalagi jika sebelumnya jarang bergerak. Jangan jadikan momen puasa untuk melakukan diet ketat atau menurunkan berat badan secara drastis karena risikonya sangat tinggi bagi sang buah hati.
Aktivitas fisik bagi ibu hamil harus menyesuaikan dengan kondisi janin. Jika dipaksakan, dehidrasi dan kelelahan hebat bisa mengancam keselamatan ibu dan anak. Tips olahraga saat berpuasa bagi mereka adalah fokus membentuk kebiasaan baru yang ringan dan bermanfaat, bukan mengejar performa puncak atau membakar kalori secara gila-gilaan.
Penderita Komorbid: Konsultasi Dokter Adalah Kunci Utama
Bagi kamu yang memiliki riwayat penyakit seperti diabetes melitus atau hipertensi (tekanan darah tinggi), olahraga sebenarnya adalah bagian dari terapi selain obat-obatan. Namun, saat Ramadan, polanya harus berubah total. Melakukan latihan rutin untuk mengatur kondisi penyakit tetap perlu, tapi kewaspadaan harus ditingkatkan berkali-kali lipat.
Sangat disarankan bagi penderita komorbid untuk berdiskusi dengan dokter spesialis sebelum menyusun jadwal olahraga. Pasalnya, kadar gula darah dan tekanan darah bisa sangat fluktuatif selama berpuasa. Tanpa pengawasan medis yang tepat, aktivitas yang tujuannya untuk sehat malah bisa memicu komplikasi serius yang membahayakan nyawa.
Lupakan Performa Puncak, Jaga Kebugaran Saja!
Banyak dari kita yang sering terjebak dalam rasa FOMO (Fear of Missing Out) melihat orang lain tetap aktif lari atau ke gym saat puasa. dr. Risky menekankan bahwa esensi sejati dari olahraga di bulan suci adalah mempertahankan tingkat kebugaran, bukan mengejar prestasi atau rekor baru.
Jika kamu saat ini sedang menjalani program latihan berat, misalnya persiapan untuk lari maraton, sebaiknya turunkan ekspektasimu. Gunakan bulan Ramadan untuk menjaga otot agar tidak kaku dan tubuh tetap segar, bukan waktu untuk memacu detak jantung hingga batas maksimal.
"Misalnya kita sedang ada dalam program latihan untuk maraton. Ini bukan waktu yang tepat untuk mencapai performa puncak," tambah dr. Risky.
Cara Aman Tetap Aktif Tanpa Bikin Tubuh Tumbang
Agar tetap sehat, mulailah dengan intensitas rendah. Jangan langsung melakukan olahraga berat saat jam-jam kritis menjelang berbuka jika kamu masuk dalam kelompok risiko tadi. Pastikan asupan cairan saat sahur dan berbuka terpenuhi dengan sempurna untuk menghindari dehidrasi saat melakukan aktivitas fisik ringan.
Ramadan adalah momen untuk refleksi dan menjaga kesehatan secara bijak. Jangan biarkan ambisi sesaat merusak ibadah dan kondisi fisikmu dalam jangka panjang. Tetap bergerak, tapi kenali batasan tubuhmu sendiri. Sehat itu penting, tapi keselamatan tetap nomor satu! (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: