Sentuh Bumi dengan Lembut: Rahasia Arsitek Dunia Ubah Wajah Kota-Kota Besar di ASEAN

Sentuh Bumi dengan Lembut: Rahasia Arsitek Dunia Ubah Wajah Kota-Kota Besar di ASEAN

Arsitek peraih Nobel Glenn Murcutt kenalkan filosofi "Sentuh Bumi dengan Lembut" untuk masa depan ASEAN. Simak rahasia arsitektur berkelanjutan di sini!--

Radarpena.co.id - Pernahkah kamu membayangkan tinggal di kota yang super modern tapi tetap terasa sejuk dan asri? Saat ini, kawasan Asia Tenggara sedang berlomba-lomba mengejar pertumbuhan ekonomi lewat pembangunan infrastruktur yang sangat agresif. Namun, di balik gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, muncul sebuah keresahan besar: apakah kita sedang membangun masa depan atau justru merusak alam demi ambisi sesaat?

Jangan sampai kita terjebak dalam pola lama yang hanya mementingkan estetika tanpa memikirkan dampak lingkungan. Kabar baiknya, para pakar arsitektur dunia baru saja berkumpul di Jakarta untuk membedah filosofi "Touch this earth lightly" atau sentuhlah bumi ini dengan lembut. Prinsip ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan kunci agar kota-kota di ASEAN, termasuk Indonesia, tetap tangguh menghadapi krisis iklim yang semakin nyata.

Filosofi Glenn Murcutt: Mengapa ASEAN Harus Berubah Sekarang?

Prinsip "Touch this earth lightly" diperkenalkan oleh Glenn Murcutt, maestro arsitektur asal Australia yang memenangkan Pritzker Architecture Prize—penghargaan setara Nobel di dunia desain bangunan. Murcutt menekankan bahwa bangunan yang hebat seharusnya tidak mendominasi alam, melainkan beradaptasi dengannya. Di tengah proses urbanisasi tercepat di dunia, kawasan ASEAN diprediksi akan menampung ratusan juta penduduk kota pada 2030 mendatang.

Masalahnya, wilayah kita sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut dan gelombang panas ekstrem. Kita tidak bisa lagi menggunakan pola lama "bangun-hancurkan-bangun kembali". Kita butuh pendekatan arsitektur berkelanjutan yang menghormati identitas lokal dan meninggalkan jejak karbon seminim mungkin. Inilah saatnya para pengembang dan arsitek beralih ke material yang lebih cerdas dan adaptif.

Simposium Jakarta: Kolaborasi Regional Demi Masa Depan yang Tangguh

Pada simposium arsitektur ASEAN yang bertajuk "Shaping Resilient Futures," sekitar 190 pakar dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Australia berkumpul untuk merumuskan masa depan kawasan. Nick Sissons dari Glenn Murcutt Architecture Foundation menjelaskan bahwa filosofi "sentuhan lembut" ini sangat relevan diterapkan di Asia Tenggara yang kaya akan keragaman budaya dan kearifan lokal.

Arsitek senior dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Budi Pradono, yang hadir dalam forum tersebut menegaskan bahwa kolaborasi lintas negara sangat vital. Kemitraan ini memotivasi komunitas desain untuk menciptakan karya yang lebih berani dan berdampak nyata bagi lingkungan. Bukan hanya soal gaya, arsitektur modern harus mampu menjawab tantangan iklim tropis yang semakin kompleks.

Baja Modern: Solusi Hijau untuk Bangunan Masa Depan

Salah satu poin menarik yang muncul dalam diskusi tersebut adalah pergeseran cara pandang terhadap material baja. Dulu, baja mungkin dianggap sebagai simbol bangunan industri yang kaku dan panas. Namun, teknologi material modern telah mengubah segalanya. Baja kini menjadi medium utama untuk menciptakan harmonisasi antara manusia dan alam.

Jenny Margiano, Country President PT NS BlueScope Indonesia, mengungkapkan bahwa baja modern memiliki karakteristik yang sangat mendukung ekonomi sirkular. Material ini bisa didaur ulang hingga 100% tanpa menurunkan kualitasnya. Selain itu, baja sangat fleksibel untuk desain yang membutuhkan ventilasi alami—sangat cocok untuk hunian di iklim tropis seperti Indonesia—serta memiliki struktur yang tangguh menghadapi gempa bumi.

Steel Architectural Awards ASEAN 2026: Panggung Inovasi Arsitek Lokal

Untuk mendorong perubahan ini, simposium tersebut juga menandai peluncuran Steel Architectural Awards ASEAN 2026. Kompetisi bergengsi ini mencari karya-karya paling inovatif dari Indonesia dan negara tetangga yang mampu menerapkan prinsip keberlanjutan pada bangunan hunian, komersial, hingga infrastruktur publik. Ini adalah kesempatan emas bagi arsitek lokal untuk menunjukkan taringnya di level internasional.

Dewan juri yang terdiri dari ahli papan atas seperti Firman Setia Herwanto (Wakil Ketua IAI) dan Asae Sukhyanga (Presiden ASA) akan menilai proyek berdasarkan bagaimana bangunan tersebut merespons konteks lokal. Penilaian tidak lagi melulu soal kecantikan visual, melainkan sejauh mana bangunan tersebut memberikan dampak positif jangka panjang bagi komunitas di sekitarnya.

Menuju Arsitektur yang Menghargai Warisan dan Modernitas

Steve Woodland dari COX Architecture Australia mengingatkan bahwa teknologi seperti baja berlapis bisa menjadi jawaban atas kerumitan desain masa depan. Dengan mengombinasikan warisan budaya lokal dan teknologi modern, kita bisa menciptakan ruang hidup yang tidak hanya indah, tetapi juga bertanggung jawab terhadap bumi yang kita tinggali.

Apakah kamu sudah siap melihat perubahan wajah kota kita menjadi lebih hijau dan tangguh? Masa depan arsitektur ASEAN kini ada di tangan mereka yang berani menerapkan "sentuhan lembut" pada setiap fondasi yang mereka bangun. Mari kita nantikan karya-karya luar biasa yang akan lahir dari semangat keberlanjutan ini. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: