Vaksin Kanker Enteromix Rusia Diklaim 100% Efektif, Epidemiolog Minta Uji Klinis Harus Ketat

Vaksin Kanker Enteromix Rusia Diklaim 100% Efektif, Epidemiolog Minta Uji Klinis Harus Ketat

Pemerintah harus hati-hati ujicoba vaksin kanker asal Rusia-hasyim asyari-ist

JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Rencana Indonesia untuk bekerja sama dengan Rusia dalam uji coba vaksin kanker Enteromix mendapat sorotan publik.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan pihaknya akan mengirim tim khusus ke Rusia guna mempelajari potensi vaksin tersebut sebelum dilakukan uji coba di Indonesia.

Vaksin Enteromix dikembangkan oleh Federal Medical and Biological Agency (FMBA) Rusia dengan menggunakan teknologi mRNA, serupa dengan vaksin COVID-19.

Dalam uji klinis tahap awal, vaksin ini diklaim memiliki efikasi hingga 100% terhadap kanker kolorektal.

BACA JUGA:PAPDI Anjurkan Vaksin Pneumokok Sejak Usia 18 Tahun untuk Cegah Pneumonia pada Lansia

Meski demikian, para ahli epidemiologi mengingatkan bahwa setiap langkah harus dilakukan dengan hati-hati dan tetap berpegang pada standar ilmiah internasional.

Ahli epidemiologi Panji Fortuna Hadisoemarto menegaskan pentingnya transparansi hasil uji klinis serta publikasi ilmiah yang sudah melewati proses peer-review.

“Prasyaratnya jelas: kualitas sains dari vaksin harus terbukti. Harus ada data uji klinis sebelumnya yang dipublikasikan secara terbuka, serta mengikuti standar etik internasional,” ujarnya, Minggu (14/9/2025).

Ia juga mengingatkan bahwa kegagalan uji coba atau munculnya efek samping serius dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap program vaksinasi secara keseluruhan.

BACA JUGA:Kemenkes Siapkan Sugar Tax untuk Tekan Obesitas, Dorong Masyarakat Miliki Badan Ideal

Tahapan Uji Klinis yang Harus Dilalui

Sama seperti vaksin atau obat baru lainnya, Enteromix wajib melewati tiga fase uji klinis sebelum digunakan secara luas:

Fase I: Uji coba pada kelompok kecil orang sehat untuk menilai keamanan dasar dan menentukan dosis yang tepat.

Fase II: Uji coba pada kelompok lebih besar untuk mengamati efektivitas serta efek samping jangka pendek.

Fase III: Uji coba skala besar dengan ribuan peserta guna memastikan efektivitas, membandingkan dengan plasebo, serta memantau efek samping yang jarang terjadi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: