Fenomena Job Fair, Said Iqbal: Potret Buram Dunia Ketenagakerjaan Indonesia

Fenomena Job Fair, Said Iqbal: Potret Buram Dunia Ketenagakerjaan Indonesia

Ribuan Pencari Kerja Ricuh saat Hadiri Job Fair di Cikarang Utara-Disway/Dimas Rafi -

BEKASI, RADARPENA.CO.ID – Presiden Partai Buruh sekaligus Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengkritik keras pelaksanaan Job Fair 2025 yang digelar di Kabupaten Bekasi.

Menurutnya, bursa kerja semacam ini justru menjadi cermin buram dunia ketenagakerjaan Indonesia, sekaligus bukti bahwa pengelolaan angkatan kerja masih jauh dari kata ideal.

“Apa itu Job Fair? Itu sudah tidak relevan lagi di era digital seperti sekarang. Semua bisa dilakukan lewat aplikasi,” ujar Said Iqbal saat dikonfirmasi dari Cikarang, Rabu (11/6/2025).

Menurut Iqbal, Job Fair hanya memperlihatkan ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola pasar kerja nasional.

BACA JUGA:Penyelidikan Kisah Horor Keluarga Smurl: Ketika Rumah Menjadi Neraka selama 13 Tahun

Ia menyoroti inkonsistensi antara janji politik soal penciptaan lapangan kerja dan realita yang ada di lapangan.

“Janji politik bilang, setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen akan hadir 400 ribu lapangan kerja. Kalau ekonomi tumbuh 5 persen, harusnya 2 juta lapangan kerja baru. Mana buktinya?” katanya.

Said Iqbal juga menyinggung perubahan drastis peran Dinas Tenaga Kerja sejak tahun 1990-an. Dulu, mereka adalah garda depan bagi pencari kerja, lengkap dengan kartu kuning sebagai basis data angkatan kerja.

Kini, sistem tersebut nyaris hilang dan digantikan dengan pendekatan yang menurutnya tidak sistematis.

“Dulu begitu investor masuk, data pekerja langsung tersedia. Sekarang? Tidak jelas. Sementara Vietnam sudah menerapkan sistem ini dan jadi tujuan utama investasi,” ujar Iqbal.

BACA JUGA:Persib Bandung Resmi Lepas Gustavo Franca, Ini Pesan Menyentuh Pamit ke Bobotoh

Iqbal mengungkapkan bahwa praktik jual-beli kerja masih marak, terutama di wilayah industri seperti Cikarang, Serang, dan Subang.

“Di Cikarang, mau kerja harus bayar Rp5–20 juta, dan belum tentu diterima. Di Serang bisa Rp40 juta untuk masuk pabrik sepatu ternama, di Subang Rp10 juta. Ini nyata, sudah terkonfirmasi,” ujarnya.

Keluhan juga datang dari peserta Job Fair 2025. NSR (22) asal Cibarusah Jaya menyebut belum ada satu pun dari tujuh perusahaan yang diikutinya memberikan panggilan wawancara. Hal serupa diungkapkan SFH (18) dari Cikarang Utara.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: