Sabu Seberat 2 Ton Senilai Rp5 Triliun Gagal Masuk Batam, Terbesar dalam Sejarah Indonesia
Penampakan sabu seberat 2 ton yang digagalkan masuk Batam--bnn.go.id
BATAM, RADARPENA.CO.ID – Tim gabungan dari Badan Narkotika Nasional (BNN), TNI Angkatan Laut, dan Bea Cukai berhasil menggagalkan penyelundupan narkotika jenis sabu seberat 2 ton di Dermaga Bea Cukai, Tanjung Uncang, Batam.
Operasi yang berlangsung pada Selasa (20/5/2025) ini tercatat sebagai pengungkapan narkoba terbesar dalam sejarah Indonesia.
Kepala BNN Komjen Pol. Marthinus Hukom, yang memimpin langsung operasi ini, menyatakan bahwa pengungkapan ini merupakan hasil dari penyelidikan intensif selama lima bulan.
BACA JUGA:Wanita Asal Thailand Masukan Sabu-Sabu ke Kemaluan, Ditangkap di Bandara Soekarno Hatta
"Berdasarkan catatan kami, ini adalah kasus penyelundupan sabu terbesar yang pernah diungkap dalam satu operasi tunggal di Indonesia," ujar Marthinus saat konferensi pers di lokasi penangkapan, Senin (26/5/2025).
Sabu Disimpan di Palka dan Mesin Kapal
Petugas berhasil mengamankan sabu dari kapal KM MT Sea Dragon Tarawa saat berlayar di perairan Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau.
Dari kapal tersebut, ditemukan 67 kotak berisi sabu, masing-masing berisi sekitar 30 kilogram, dengan total bobot mencapai 2.010 kilogram.
Seluruh barang haram tersebut disembunyikan secara rapi di palka dan ruang mesin kapal, yang membuat proses pengintaian dan penyergapan menjadi menantang.
Nilai Barang Haram Capai Rp5 Triliun
Diperkirakan, sabu seberat 2 ton itu memiliki nilai pasar mencapai Rp5 triliun jika berhasil diedarkan di dalam negeri.
Ini menandai ancaman serius terhadap generasi muda dan menjadi bukti kuat bahwa Indonesia masih menjadi target utama jaringan narkotika internasional.
BACA JUGA:Wanita Setengah Telanjang Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Kamar Hotel Tangerang
Marthinus mengungkapkan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari kerja sama intelijen lintas negara. Jaringan sabu ini berkaitan erat dengan pengungkapan kasus serupa di Thailand beberapa bulan sebelumnya.
“Kami memanfaatkan informasi dari rekan internasional, menganalisis pergerakan, dan menyusun pola lintasan kapal untuk mengungkap jaringan besar ini,” jelasnya.
Operasi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan yang dimulai sejak awal 2025. Tim gabungan telah memantau jalur penyelundupan di Selat Malaka dan Tanjung Balai Karimun.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: