Digital Forensik Bongkar Kejanggalan Skripsi Jokowi, Temuannya Bikin Geger

Digital Forensik Bongkar Kejanggalan Skripsi Jokowi, Temuannya Bikin Geger

Klaim Roy Suryo menemukan kejanggalan di skripsi Jokowi--

Radarpena.co.id, Jakarta - Polemik dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih terus menjadi perdebatan panas hingga saat ini. Bahkan, muncul temuan-temuan yang mengungkapkan bukti-bukti baru, salah satunya terkait skripsi Jokowi.

Dalam video yang diunggah oleh akun YouTube IKeep OnTrack, terlihat bagaimana skripsi Jokowi dibongkar secara digital forensik.

 

Unggahan berjudul "#Reuploaded, Digital Forensik Skripsi Jokowi yang Diduga Palsu, Menelusuri Temuan Fakta Digital" kemudian diunggah ulang oleh akun X @Sandika_Noor.

BACA JUGA:Usulan Purnawirawan TNI Makzulkan Gibran, PDIP: Harus Ditanggapi Serius Presiden Prabowo

Dalam cuitannya, terungkap bahwa skripsi Presiden ke-7 Indonesia itu diduga dibuat pada 2018. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, karena Jokowi diketahui lulus dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1985.

Beberapa pihak, termasuk Rismon Hasiholan Sianipar (mantan dosen Universitas Mataram) dan Roy Suryo (mantan Menteri Pemuda dan Olahraga), mengklaim adanya kejanggalan pada skripsi Jokowi yang berjudul "Studi Tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis pada Pemakaian Akhir di Kotamadya Surakarta" (1985).

BACA JUGA:Ketua Komnas HAM Papua dan Rombongan Diserang KKB Papua di Teluk Bituni

Berikut adalah poin-poin utama tuduhan mereka:

1. Penggunaan Font Times New Roman: Rismon mengklaim bahwa sampul dan lembar pengesahan skripsi menggunakan font Times New Roman, yang menurutnya baru tersedia secara luas pada 1992 melalui Windows 3.1, sehingga tidak mungkin digunakan pada 1985.

2. Perbedaan Teknologi Cetak: Roy Suryo menyebutkan bahwa lembar pengesahan dan sampul skripsi tampak menggunakan teknologi cetak digital modern, yang tidak sesuai dengan era 1980-an ketika mesin tik masih umum digunakan. Isi skripsi diketik dengan mesin tik, tetapi sampul dan lembar pengesahan tampak lebih rapi, diduga dicetak dengan teknologi yang belum ada saat itu.

BACA JUGA:Daftar Penyakit yang Biasa Menyerang Jemaah Haji di Arab Saudi

3. Ketidaksesuaian Nama Pembimbing: Roy Suryo menyoroti bahwa nama pembimbing skripsi tidak konsisten dengan pernyataan Jokowi. Jokowi menyebut dosen pembimbingnya adalah Ir. Kasmujo, tetapi ada klaim bahwa nama tersebut tidak tercantum dengan benar atau berbeda dalam dokumen.

4. Istilah "Tesis" pada Skripsi S1: Lembar pengesahan skripsi disebut menggunakan istilah "tesis," yang tidak lazim untuk program sarjana (S1), karena istilah ini biasanya digunakan untuk jenjang magister atau doktoral.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: