Miris dan Menyedihkan, Pelajar Indonesia Ternyata Minim Kejujuran
Ilustrasi pelajar Indonesia minim kejujuran--net
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Hal yang miris dan menyedihkan terhadap pelajar Indonesia terungkap. Ternyata pelajar Indonesia sangat minim kejujuran.
Kesimpulan tersebut merupakan hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Berdasarkan hasil SPI Pendidikan 2024 menyebut adanya darurat integritas di dunia pendidikan Indonesia.
Temuan KPK menunjukkan bahwa praktik ketidakjujuran akademik, terutama budaya menyontek, masih marak terjadi.
BACA JUGA:Viral! Mobil Double Cabin Hantam 29 Motor di Gang Pemukiman Sempit Samarinda, 10 Rumah Rusak
Sebanyak 78 persen sekolah dan 98 persen perguruan tinggi terindikasi masih menghadapi praktik menyontek, yang dilakukan oleh 43 persen siswa dan 58 persen mahasiswa.
Tak hanya peserta didik, praktik plagiarisme juga menyeruak. Data menunjukkan 43 persen kampus dan 6 persen sekolah melaporkan kasus plagiasi yang dilakukan oleh dosen dan guru.
Menanggapi temuan tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa kementeriannya akan segera melakukan perbaikan menyeluruh dalam sistem pendidikan.
“Kami akan memperbaiki sistem dan pendekatan pembelajaran, serta mengubah orientasi pendidikan yang selama ini terlalu berfokus pada capaian nilai,” ujar Mu’ti dalam sesi tanya jawab.
BACA JUGA:Pembangunan Pabrik BYD di Subang Direcoki Ormas, Pemerintah Bakal Tindak Tegas
Mu’ti menekankan pentingnya pendidikan berbasis nilai dan karakter, bukan hanya sekadar transfer pengetahuan. Ia menyebutkan bahwa pelatihan guru saat ini mulai difokuskan pada penguatan pendidikan karakter serta peran aktif bimbingan konseling bagi siswa.
Sebagai langkah konkrit, Kemendikdasmen akan mulai menerapkan metode deep learning atau pembelajaran mendalam mulai tahun ajaran 2025/2026.
Pendekatan ini menekankan pemahaman makna dari materi yang dipelajari agar siswa dapat menginternalisasi dan menerapkannya dalam perilaku nyata.
“Pembelajaran tidak boleh lagi sekadar knowing, tapi juga menjadi behaving. Itulah arah reformasi pendidikan yang sedang kami siapkan,” tutup Mu’ti.(zahro)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: