Apa Kaitan jalan Kaki dengan Kesehatan Mental?

Apa Kaitan jalan Kaki dengan Kesehatan Mental?

--

Radarpena.co.id - Lifestyle Hasil penelitian dari 3 studi yakni Studi Kesehatan dan Pensiun AS (HRS-INS), studi LongGenity, dan studi RUSH MAP menemukan bahwa berjalan kaki dengan cepat akan mengurangi risiko gangguan kognitif di usia lanjut.

Menurut siaran Eating Well pada Kamis (9/7), ketiga studi tersebut melibatkan total sekitar 4.000 peserta.

Setiap studi mengumpulkan berbagai data, termasuk kecepatan berjalan, hasil tes kognitif, pencitraan otak, dan otopsi otak, selain data demografis, riwayat keluarga, umur panjang orang tua, tingkat pendidikan, dan diagnosis terkait demensia.

 

Berdasarkan tes berjalan yang diukur waktunya, para peneliti ini mendefinisikan "penggerak super" sebagai orang-orang dengan kecepatan berjalan setidaknya 1,5 standar deviasi di atas kecepatan berjalan rata-rata orang seusia mereka.

Para peneliti membandingkan data dari para penggerak super ini dengan data dari bukan penggerak super untuk melihat apakah kelompok tersebut memiliki risiko demensia yang berbeda.

Hasilnya adalah bahwa penggerak super memiliki risiko gangguan kognitif sekitar 50 persen lebih rendah dibandingkan dengan bukan penggerak super.

 

Para pelaku aktivitas fisik yang aktif juga menunjukkan tingkat penurunan kognitif yang lebih lambat, baik yang terkait dengan memori maupun tidak, dan memiliki lebih banyak materi otak di hipokampus (bagian otak yang memainkan peran penting dalam memori).

Selain itu, para pelaku aktivitas fisik yang aktif juga memiliki tingkat Alzheimer yang lebih rendah, meskipun otopsi otak tidak menunjukkan perbedaan besar antara para pelaku aktivitas fisik yang aktif dan yang tidak aktif terkait patologi yang berhubungan dengan demensia.

Para penulis studi menunjukkan beberapa keterbatasan studi mereka, termasuk faktor-faktor pengganggu potensial yang tidak mereka pertimbangkan.

Selain itu, subset individu yang memiliki data pencitraan otak relatif kecil dan, oleh karena itu, membatasi beberapa pengukuran.

 

Terakhir, salah satu studi terdiri atas proporsi pelaku aktivitas fisik yang aktif yang lebih tinggi, yang mungkin telah membiaskan hasilnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait