Bolehkah Menggabungkan Puasa Dzulhijjah dengan Qadha Ramadhan? Ini Penjelasan Hukumnya

Bolehkah Menggabungkan Puasa Dzulhijjah dengan Qadha Ramadhan? Ini Penjelasan Hukumnya

Puasa--

radarpena.co.id -- Menjelang datangnya bulan Dzulhijjah, umat Islam mulai mempersiapkan diri untuk menjalankan berbagai amalan sunnah. Salah satu ibadah yang paling utama pada awal bulan ini adalah menunaikan puasa sunnah selama sembilan hari pertama Dzulhijjah.

Namun, di tengah semangat beribadah tersebut, sebuah pertanyaan klasik sering kali muncul setiap tahun: bolehkah umat Muslim menggabungkan puasa Dzulhijjah dengan puasa qadha Ramadhan?

​Pertanyaan ini biasanya datang dari umat Muslim, terutama kaum wanita, yang masih memiliki utang puasa Ramadhan karena haid, sakit, perjalanan jauh, atau uzur syar'i lainnya. Di sisi lain, mereka juga tidak ingin kehilangan momentum untuk meraih keutamaan besar dari puasa Dzulhijjah dan puasa Arafah. Dalam praktiknya, para ulama memiliki penjelasan mendalam serta perbedaan pandangan terkait penggabungan (tasyrik) niat antara puasa sunnah dan puasa wajib ini.

​Meskipun terdapat perbedaan pendapat, mayoritas ulama tetap menekankan pentingnya menyegerakan pembayaran utang puasa Ramadhan sebelum bulan suci berikutnya tiba. Lalu, bagaimana sebenarnya hukum fikih mengatur penggabungan kedua jenis puasa ini? Apakah seseorang bisa mendapatkan pahala keduanya sekaligus dalam satu hari? Berikut ulasan lengkapnya.

BACA JUGA:Mau Liburan di Bali Besok? Cek Info BMKG Soal Potensi Hujan dan Suhu Udara

BACA JUGA:?Hancurkan Liverpool 4-2, Aston Villa Segel Tiket ke Liga Champions

 

Keutamaan Luar Biasa Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah

​Sebelum membedah hukum penggabungan niat, umat Muslim perlu memahami mengapa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah begitu istimewa. Islam memandang waktu ini sebagai salah satu momen paling mulia dalam setahun. Pada hari-hari tersebut, Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak amal saleh, seperti berzikir, bersedekah, mengumandangkan takbir, membaca Al-Quran, hingga menjalankan puasa sunnah.

​Rasulullah SAW menegaskan keutamaan waktu ini dalam sebuah hadis:

​"Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai Allah untuk beribadah di dalamnya selain sepuluh hari pertama Dzulhijjah."

​Bahkan, hadis riwayat At-Tirmidzi menyebutkan bahwa pahala berpuasa pada hari-hari awal Dzulhijjah sangatlah besar. Satu hari berpuasa di dalamnya memiliki nilai yang setara dengan berpuasa selama satu tahun penuh.

​Selain puasa pada delapan hari pertama, puasa Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah memiliki kedudukan yang jauh lebih istimewa bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Berdasarkan hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menyatakan bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

​Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, penulis juga menjelaskan bahwa puasa sunnah pada bulan Dzulhijjah termasuk jajaran ibadah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) karena berada pada kluster waktu yang penuh dengan limpahan kemuliaan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: